Kamis, 10 Juli 2008

Selamatkan Lingkungan, Mulai Dari Diri Sendiri


Kamaruzzaman memulai dari diri sendiri memulai untuk peduli terhadap lingkungan hidup. FOTO: NURHADI


Selamatkan Lingkungan
Mulai Dari Diri Sendiri
Kubu Raya, BERKAT.
Meski diusia yang masih relatif sangat muda, jika berbicara masalah lingkungan hidup pemerintahan Kabupaten Kubu Raya tidak kalah peduli dengan daerah lain, Jumat (6/6) kemarin di Kantor Bupati Kubu Raya, seluruh staf dan jajaran turun langsung memperingati Pekan Lingkungan Hidup se Kabupaten Kubu Raya yang diprakarsai oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda).
"Untuk sementara waktu, inilah yang dapat kami lakukan, meski bersifat lokal tetapi kami juga berusaha untuk berfikiran global," kata Ketua Panitia Pekan Lingkungan Hidup Kubu Raya, Ir. Mulyadi.
Dikatakan Kepala Bapedalda Kubu Raya ini, kegiatan tersebut dilatarbelakangi dari munculnya keprihatinan terhadap semakin menurunnya kondisi dan kualitas lingkungan.
"Kami berpendapat, jika ingin orang lain melakukan sesuatu yang kita inginkan maka kita bisa mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang. Meski hal-hal yang kecil dan sederhana. Kami telah memulai, semoga dapat diikuti dan didukung oleh semua pihak," katanya seraya mengkampanyekan hari lingkungan hidup se dunia.
Penjabat Bupati Kubu Raya, Drs. Kamaruzzaman, MM menegaskan pada saat ini, upaya penyelamatan lingkungan sudah mendesak untuk dilakukan. Untuk itu perlu adanya perubahan perilaku yang ramah lingkungan. Upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim perlu dilakukan secara konsisten dengan tujuan untuk meminimalisir dampak yang telah terjadi, mengantisipasi resiko sekaligus mengurangi efek dari perubahan dimaksud sehingga dapat menghemat biaya yang harus dikeluarkan akibat perubahan kondisi lingkungan yang terjadi.
"Mengingat Kabupaten Kubu Raya merupakan wilayah yang rawan akan terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan, untuk itu kita berharap pekan lingkungan hidup ini akan sangat memberi arti dan nilai penting dalam upaya pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan di Kubu Raya," ungkapnya.
Caranya, kata Kamaruzzaman, dapat dilakukan dengan mulai menanamkan kebiasaan gemar menanam pohon yang dapat menyerap karbondioksida di udara, membudayakan hidup bersih dengan membuang sampah pada tempatnya, mematikan alat-alat elektronik jika tidak sedang digunakan, serta hal-hal lain yang kiranya dapat mengurangi efek gas rumah kaca sehingga dapat memperlambat laju pemanasan global. "Dengan demikian, keseimbangan kepentingan lingkungan, sosial dan ekonomi dapat tercapai," katanya.
Pada rangkaian pekan lingkungan hidup tersebut, jajaran pemerintahan Kubu Raya juga melakukan penanaman pohon di belakang gedung utama kantor bupati sebagai langkah konkrit peduli dengan lingkungan hidup dan disertai penanaman pohon di tiap kecamatan dan tempat-tempat yang telah ditentukan. (adi)

Pemprov Tunggu Hasil Study Konsultan Aerocity

Pemprov Tunggu Hasil Study Konsultan Aerocity
Pontianak, BERKAT.
Terkait rencana Pemerintah Kabupaten Kubu Raya yang akan mengembangkan aerocity atau pengembangan kawasan kota yang berbasis airport, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kalbar, Drs. H. Fathan A. Rasyid, M. Ag mengatakan saat ini masih menunggu hasil study yang dilakukan oleh konsultan perencana aerocity.
"Perencanaan aerocity masih tahapan study yang dilakukan oleh pemerintah KKR dan konsultan yang dilihat dari potensi dan peluang yang mengacu pada rencana tata ruang, bangunan dan lingkungan (RTBL)" katanya.
Dari study tersebut, lanjutnya akan ada hasil, nantinya akan dibicarakan bersama pemerintah KKR, dengan mendidiskusikannya, sehingga memberikan pemikiran-pemikiran apa aerocity bisa jadi pengungkit pembangunan. Rencana aerocity sebagai suatu pemikiran antisipatif di wilayah Kalbar sangat strategis.
Menurut Fathan, pengembangan kota satelit pada lahan seluas 6.500 hektar tersebut sesuai dengan RPJMD 2008-2013. Dalam konsep kewilayahan pembangunan dibagi tiga, pertama konsep dalam kawasan pesisir dan kepulauan, kawasan perbatasan antar negara, kawasan antar provinsi serta kawasan tengah atau pedalaman.
Dari posisi dan topografi posisi Kubu Raya sangat strategis mengingat kabupaten ini memiliki jalur perdagangan atau bisinis (udara, darat, laut dan sungai). "Setelah study aerocity selesai, rencananya program tersebut akan disandingkan dengan Program Pontianak Metropolitan yang saat ini sedang finalisasi di Departemen PU," pungkas Fathan.

Desain Aerocity (bagian 3)

Investasi Mencapai Rp30 triliyun

Pontianak, BERKAT.
Untuk membangun kawasan kota satelit atau aerocity direncanakan menggunakan lahan sebelah barat kawasan bandara yang ada sekarang seluas 6.500 hektar yang sebagian besaar merupakan kawasan perkebunan yang kurang produktif.
Meski fibility study dari proyek ini belum ada, namun dapat diestimasikan dalam proses pembangunan bandara internasional dan kawasan lainnya dalam proyek tersebut di Kubu Raya akan melibatkan banyak tenaga kerja, yakni sekitar 1,5 juta pekerja yang merupakan akumulasi dari bidang hulu hingga hilir antara lain konsultan, perusahaan penyuplai, kontraktor, subkontraktor dan usaha pendukung.
Guna mengisi lowongan kerja ini nantinya, tenaga kerja lokal yang memenuhi standart menjadi prioritas utama. "Saat ini sedang dikaji bebera konsep social engenering dari proyek aerocity berkaitan dengan keterlibatan masyarakat lokal secara luas dan berkelanjutan," ungkap Sy. Usmardan lagi.
Usmardan, menegaskan untuk mewujudkan aerocity, pihak investor dan konsultan sudah menyatakan siap untuk mengucurkan investasi dengan jumlah tidak terbatas. "Jadi, jika anggaran yang dicanangkan untuk pengembangan tahap awal Aerocity sebesar Rp30 triliun, maka mereka akan siap mengucurkan dana tersebut, karena mereka benar-benar serius menggarap program ini," jelasnya.
Sementara itu, Kamaruzzaman merasa optimis bahwa program Aerocity akan berhasil. "Karena bagaimanapun juga jika KKR dan Kalbar ingin berkembang, maka satu-satunya akses untuk menangkap peluang Internasional, maka airportnya juga harus bertaraf Internasional," katanya di ruang kerjanya.
Untuk mewujudkan hal itu, tinggal bagaimana keputusan pemerintah Provinsi Kalbar. "Jika Kalbar ingin maju Gubernur harus tanggap dan respon," ungkap Sy. Usmulyani. (adi/selesai)

Desain Aerocity (bagian 2)

Kunci Persaingan Global Kalbar
Kubu Raya, BERKAT.
Dua kutub perkembangan yang mempengaruhi perkembangan kawasan aerocity atau Kota Satelit adalah kawasan bisnis jalan Ahmad Yani I di satu kutub (Kota Pontianak) dan Bandara Supadio (KKR) di kutub yang lain.
"Pada konsep Aerocity, bandara yang representatif (international standar) mutlak dan menjadi poin penting karena nantinya perpindahan moda transportasi dalam pergerakan barang (cargo) dan manusia di KKR khususnya dan Kalbar umumnya, akan terjadi jika konsep ini terwujud," kata Sy. Usmardan, ST, M. Art.
Desain bentuk kota dalam hubungannya dengan core kota dipengaruhi letak wilayah potensial pengembangan lainnya di KKR dan master plan Kalbar serta Rencana Umum Tata Perkotaan Nasional (Indonesia).
Pj. Bupati Kubu Raya, Drs. Kamaruzzaman, MM menegaskan konsep Aerocity telah dimasukkan dalam peta perencanaan wilayah pembangunan Kubu Raya. Sebab merupakan salah satu bagian dari pengembangan kawasan terpadu antara perluasan Airport dengan kawasan pembangunan sosial ekonomi. Nantinya di sekitar Airport akan dibangun pelabuhan internasional, terminal bus internasional, sarana sosial dan ekonomi lainnya seperti rumah sakit, mal, kompleks perkantoran, dan pasar. "Kita semakin memperkuat posisi bandara tersebut, sehingga jika selama ini bandara kita hanya menerima jalur penerbangan nasional, ke depan akan lebih dikembangkan sehingga dapat menerima pesawat domestik dari luar negeri," ungkapnya yang tidak bisa menghitung berapa PAD yang didapat dari kesuksesan pembangunan kota satelit tersebut.
Ke depan, Aerocity ini akan menjadi kota tersendiri yang benar-benar lengkap dan menjadi suatu pusat pertumbuhan atau kota masa depan yang sudah banyak dikembangkan di negara-negara maju, seperti Kuching, dan Singapura. "Kita berharap, jika seluruh tahapan administratifnya telah diselesaikan dan studi kelayakannya telah dibuat oleh perusahaan konsultan akan kita perdalam," katanya.
Rencananya akhir Juni ini pihaknya akan mengundang kembali konsultan tersebut untuk memantapkan kembali perencanaannya, mengingat pada bulan Juli/Agustus nanti APBD KKR akan disusun untuk tahun 2009. Setalah melakukan pertemuan tersebut, baru presentasi kepada Gubernur Kalbar agar program ini dapat segera berjalan.
"Saya juga sudah bertemu langsung dengan investornya, bahkan kuasa hukumnya untuk membahas program ini, pada tanggal 26 Desember 2007 lalu. Pertemuan kedua dan ketiga di ruang kerja saya. Investor ini bukan sembarangan investor karena mereka adalah investor bertaraf internasional yang memiliki kualifikasi, dan dari data profil company yang kita lihat mereka telah melakukan pembangunan Airport di Kuwait, Dubai dan yang lainnya," jelas Kamaruzzaman. (*/bersambung)

Desain Aerocity

Desain Aerocity (bagian 1)
Gerbang Kubu Raya Go Internasional
Kubu Raya, BERKAT.
Sebuah desain yang menekankan pada sebuah konsep kota masa depan, dimana kawasan bandara menjadi core kota berbasis integreted moda transportation, selain berfungsi sebagai core kota, Supadio juga berfungsi sebagai ancour dari perpindahan modal transportasi, baik dari darat, laut dan sungai.
Desain yang diprediksi mampu membawa kesejahteraan Kalimantan Barat pada umumnya dan Kubu Raya khususnya itu dimotori PT Ertrans, sebuah perusahaan konsultan berskala internasional dari Jepang di bawah pimpinan Mr. Isada yang bergerak di bidang transportasi berdomisili di Jakarta dan dimotori oleh ahli penerbangan, ekonomi dan sarjana sains transportasi, Sy. Usmulyani, Ah. Pnb, SE, SSiT juga didukung seorang Urban Design (ahli tata kawasan), Sy. Usmardan, ST, M. Art menilai konsep tersebut sangat tepat dan sangat relevan untuk diimplementasikan di Kabupaten Kubu Raya jika dilihat dari prosfektus ekonomi (bisnis) dan keadaan alam (posisi dan topografi).
Perspektif ekonomi (bisnis) dapat dijelaskan berdasarkan data penerbangan yang ada dalam 7 tahun terakhir (2001-2007), menunjukkan kecenderungan pasar jasa transportasi khusus penumpang dan cargo di Bandara Supadio mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Peningkatan rata-rata 7,4 persen pertahun untuk penumpang dan 6,5 persen pertahun untuk cargo.
Sedangkan dari keadaan alam (posisi dan topografi) dapat dijelaskan posisi Kubu Raya sangat strategis. "Kabupaten ini memiliki jalur perdagangan/bisinis (udara, darat, laut dan sungai) bagi wilayah Kalbar, Indonesia bahkan Asia Pasifik," ungkap Sy. Usmulyani di ruang kerjanya, Selasa (3/6) kemarin.
Manajer Safety PT Angkasa Pura II ini menjelaskan jalur penerbangan internasional yang melintasi Indonesia sekarang ini baik dari arah utara ke selatan maupun dari barat selalu melewati wilayah Kalbar. Hal ini tentunya menguntungkan pendapatan Kalbar dalam jangka pendek dan menjanjikan dalam jangka panjang jika dikembangkan.
Secara topografi KKR diuntungkan karena dilintasi oleh banyak sungai besar dan kecil yang saat ini masih menjadi urat nadi perdagangan Kalbar serta permukaan tanah relatif landai (jauh dari perbukitan).
"Hal yang paling penting adalah, bahwa pengembangan bandara Supadio sebagai core dari konsep Aerocity KKR ini sejalan dengan masterplan Provinsi Kalbar dan RAKP dari Departemen Perhubungan (PT Angkasa Pura II), dimana ditetapkan pengembangan Bandara Supadio nantinya menjadi bandara Internasional yang bisa didarati pesawat berbadan lebar," katanya.
Sementara itu,
Sy. Usmardan, ST, M. Art, ketika dihubungi via selulernya mengungkapkan, desain aerocity dikembangkan berdasarkan observasi dari predisposisi (kecenderungan) perkembangan dan potensi yang ada di Kabupaten Kubu Raya khususnya dan Kalbar pada umumnya. Kecenderungan tersebut dilihat pada 5-10 tahun terakhir adalah kawasan Ayani II hingga ke Bandar Udara Supadio. Hal ini terjadi dikarenakan pascapembangunan jalan Ayani II, terdapat dua kutub perkembangan yang mempengaruhi perkembangan kawasan tersebut. (*)

Tinjau Kawasan Terisolasi


Perahu yang ditumpangi Kamaruzzaman terpaksa didorong selama setengah jam, mengingat kondisi infrastruktur Dusun Loncet masih mengkhawatirkan. FOTO: NURHADI

Tinjau Kawasan Terisolasi
Pulangnya Diguyur Hujan Sepanjang Perjalanan


Laporan Nurhadi di Dusun Loncet Desa Teluk Bakung Kecamatan Sungai Ambawang
Sesampainya di pemukiman warga yang sebagian besar berada di punggung bukit Loncet, Panjabat Bupati Kubu Raya disambut langsung oleh warga setempat. Hujan yang cukup lebat saat memasuki kawasan perkampungan membuat acara adat harus ditunda beberapa menit.
Saat hujan reda, perjalanan dilanjutkan melintasi kawasan pepohonan yang besar dan jalan setapak, warga beserta rombongan penjabat bupati menuju tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat adat.
Saat berdialog dengan masyarakat, Kamaruzzaman menyampaikan sampai kapanpun jika tidak ada campur tangan orang ketiga untuk membangun desa, dalam artian mengarahkan pihak swasta berinvestasi di desa tersebut. Dusun Loncet tentu susah tersentuh oleh pembangunan desa. Mengingat dana yang dimiliki oleh pemerintah begitu terbatas.
"Dari tahun 1912 nenek moyang kami sudah menetap di sini. Tapi tidak satu orang pejabatpun yang mau mendatangi daerah kami. Mudah-mudahan apa yang diutarakan bapak Penjabat Bupati merupakan angin segar bagi kami," ungkap salah seorang warga yang merasa terharu atas kedatangan beliau.
Waktu berjalan, haripun semakin gelap, rombongan langsung berpamitan dengan masyarakat, kali ini tidak lagi menempuh jalan darat, namun menggunakan akses transportasi sungai.
Tak ubahnya kondisi akses jalan darat, satu-satunya jalur sungai yang selama ini diandalkan wargapun kondisinya begitu mengkhawatirkan. Mengingat sungai yang kecil, sekitar setengah jam, perahu kayu dengan kekuatan mesin pendorong yang digunakan tersebut harus didorong dengan berjalan mundur.
Tak lama, rintikan hujan pun turun. Kali ini sepanjang perjalanan selama tiga jam lebih rombongan yang bejumlah belasan orang tersebut harus menahan dingin.
Belum lagi rute yang dilalui melintasi kawasan hutan rimba dan tak berpenghuni, perjalanan tersebut dinikmati dengan berbagai pengalaman menarik yang susah dilupakan. (*)


Kondisi jalan di tengah hutan rimba menuju Dusun Loncet ditempuh oleh Panjabat Bupati Kubu Raya hanya dengan berjalan kaki sekitar 3 jam. FOTO: NURHADI


Jalan Kaki 3 Jam Menuju Desa Terisolasi


Laporan Nurhadi di Dusun Loncet Desa Teluk Bakung Kecamatan Sungai Ambawang

Sebelum Kabupaten Kubu Raya (KKR) dimekarkan dari kabupaten induk, sentuhan pembangunan merupakan angan yang selalu diimpikan masyarakat. Wajar, jika pemekaran digaungkan seluruh lapisan masyarakat dari bawah mendukung secara penuh.
Salah satunya di Dusun Loncet Desa Teluk Bakung Kecamatan Sungai Ambawang KKR yang tergolong sangat terisolir karena selama puluhan tahun setiap hari masyarakatnya tidak memiliki fasilitas transportasi yang tidak memadai. Untuk akses jalan daratnya, ditempuh dengan tiga jam berjalan kaki dan susah dilalui dengan kendaraan roda dua, kecuali bagi mereka yang begitu mahir mengendarai motor jenis trail. Jika tidak demikian, malah kita sendiri yang harus mendorong motor tersebut.
Bukan hanya itu, kondisi jalan yang dipenuhi dengan berbagai ukuran kayu yang tidak tertata dengan rapi, begitu pula dengan sisa tebangan yang tidak dirapikan membuat para pengguna jalan tersebut harus ekstra hati-hati.
Ada pengalaman menarik saat Pj Bupati, Drs. Kamaruzzaman, MM didampingi Kadis Kesehatan Kubu Raya, beserta reporter Harian BERKAT menempuh jalan tersebut. Setiap setengah jam perjalanan saat bertanya kepada masyarakat yang bekerja mancari kayu di kawasan tersebut, apa yang ditanyakan, jawabannya hampir sama.
"Masih berapa jauh pak menuju perkampungan ?," tanya drs. Kamaruzzaman, MM kepada warga yang sedang duduk di pondok kecil saat perjalanan sudah memasuki 60 menit pertama. "Masih empat kilometer lagi," jawab warga dengan ramah.
Setengah jam berikutnya, jawaban yang sama didengarkan lagi, padahal saat itu perjalanan sudah memasuki jam ke dua. Ada pula yang menyampaikan sekitar setengah jam lagi baru sampai di perkampungan yang akan dituju, meski di depan mata hanya hamparan pepohononan yang terlihat.
Meski beberapa kali mendapatkan jawaban yang serupa, Kamaruzzaman dan rombongan tetap melanjutkan perjalanan dengan semangat ingin melihat langsung bagaimana kondisi sebagian masyarakat yang ada di Kubu Raya. (bersambung/*)