Minggu, 27 April 2008

Pertama di Kalbar Coconut Biodiesel di Kubu Raya



Kubu Raya, BERKAT.
Sentra kelapa di Kabupaten Kubu Raya tepatnya di Desa Padang Tikar Kecamatan Batu Ampar dan Desa Kubu Kecamatan Kubu menjadi sasaran Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar untuk pembangunan pengolahan biodiesel. Sebuah gebrakan pembangunan di bidang perkebunan pada potensi komoditas kelapa merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan nilai tambah produk kelapa.
"Kita mencoba bagaimana memberikan nilai tambah bagi produk kelapa yang diorientasikan tidak hanya menghasilkan kopra, tetapi juga menghasilkan bahan baku untuk dijadikan biodiesel, yang kita sebut hasilnya adalah coconut biodiesel," ungkap Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Ir. H. Idwar Hanis kepada BERKAT di ruang kerjanya, usai salat Jumat (25/4) kemarin.
Meskipun saat ini masih dalam tahap uji coba, Idwar mengungkapkan mesin tersebut bisa melayani sekitar 1 ton kopra per hari setara dengan 5.000 kelapa per hari. "Artinya, dengan demikian bisa mengakomodir sekitar 625 hektar kebun kelapa per hari," jelasnya.
Strateginya, kata Idwar pertama bagaimana Dinas Perkebunan bisa membantu meningkatkan nilai tambah bagi para petani kelapa. "Kita harapkan program tersebut mampu memperbaiki pendapatan petani. Timbal baliknya, para petani mampu secara mandiri meningkatkan skala usaha tani. Apakah itu untuk peremajaan, rehabilitasi, perluasan dan lainnya," ungkap Idwar.
Untuk unit pengelolaan program tersebut selanjutnya Idwar berharap tentu ada satu lembaga yang ada di lapangan yang mengelola secara khusus. "Kita berharap adanya kerjasama kelompok tani atau gabungan kelompok tani yang memiliki kebun kelapa sebagai pemasok bahan baku dan mereka bisa mencari tenaga-tenaga profesional untuk mengolah pabrik tersebut," ungkapnya.
Manfaat lainnya yakni meningkatkan penghasilan para petani kelapa, hasil coconut biodiesel tersebut juga bisa membantu meringankan beban nelayan yang ada di sekitar wilayah tersebut. Sebab selama ini sebagian besar nelayan tidak lagi menggunakan solar sebagai bahan bakar, melainkan menggunakan minyak tanah yang dicampur dengan oli.
Gebrakan pembangunan perkebunan di Kalbar tersebut ternyata menarik perhatian Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur dan beberapa dinas perkebunan kabupaten, sehingga sejak Kamis (24/4) lalu, mereka melakukan studi banding terhadap pelaksanaan pembangunan perkebunan di Kalbar. (adi)

Karet Ikon Entaskan Kemiskinan


Pontianak, BERKAT.
Program pengembangan karet rakyat yang digencarkan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar telah ditetapkan sebagai ikon untuk mengentaskan kemiskinan di Kalbar. Hal itu sesuai dengan visi pembangunan yang ditetapkan Pemerintah Daerah Provinsi Kalbar di antaranya bagaimana mensejahterakan masyarakat. Sasarannya, tentu dalam hal ini bagian yang tidak terpisahkan adalah para petani karet itu sendiri.
"Kaitannya dengan program tersebut, Kita telah menetapkan tujuh langkah strategis dalam rangka mengentaskan kemiskinan bagi petani karet di Kalbar," kata Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar, Ir. H. Idwar Hanis di ruang kerjanya, Jumat (25/4).
Ia menjelaskan, strategi tersebut yakni memperbaiki jenis karet yang ditanam dengan jenis karet (klon) yang berproduksi tinggi. Dari jenis karet alam dengan klon yang sudah diteliti oleh pihak pusat penelitian karet baik di medan maupun di Palembang (Sumatra Selatan) yang disebut dengan klon generasi keempat (jenis PB 260 dan PR 261).
Klon tersebut bisa menghasilkan antara 1.5-2 ton per hektar dan dengan masa sadap bisa lebih cepat. Kalau karet alam 6 tahun baru bisa disadap, sedangkan klon generasi keempat tersebut dengan masa 3,5 tahun saja sudah bisa disadap. Untuk daya tahannya sama dengan karet lokal 25-30 tahun.
"Kita ketahui juga bahwa para petani di Kalbar saat ini memiliki minat yang cukup tinggi untuk meningkatkan perkebunan karet, tapi ketersediaan bibit begitu terbatas. Untuk itu, program yang kita rancang tersebut merupakan jalan keluar kesulitan tersebut," kata Idwar lagi.
Dari penanaman bibit unggul tersebut diarahkan untuk pembangunan kebun-kebun tunas yang akan digunakan untuk memperoleh bibit unggul. Kebun-kebun itu nantinya menghasilkan mata tunas dari klon-klon tersebut yang di tanam dari sentra produksi karet.
Kemudian mata tunas tersebut dipanen untuk diokulasikan (ditempelkan) dengan bibit yang mereka siapkan di lapangan. "Tentu dengan teknik yang sudah kita arahkan," katanya.
Maksudnya, kalau petani saat ini sangat antusias dengan bibit karet unggul, tetapi jumlahnya sangat terbatas. Ke depan mereka akan kita libatkan secara langsung, baik dengan pelatihan dan lainnya. (adi)

Kubu Raya Kembangkan Peternakan Terpadu

Kubu Raya, BERKAT.
Meski kabupaten termuda di Kalimantan Barat, saat ini begitu banyak potensi yang akan dikembangkan di Kubu Raya. Salah satunya Dinas Kehewanan dan Peternakan Provinsi Kalbar yang akan mengembangkan peternakan terpadu.
"Contohnya peternakan sapi yang akan dipadukan dengan jagung, padi dan nenas. Limbahnya pertanian tersebut akan dimanfaatkan untuk ternak, sedangkan kotoran ternak untuk pupuk organik," kata Kepala Dinas Kehewanan dan Peternakan Provinsi Kalbar, drh. Abdul Manaf Mustafa, kepada BERKAT usai membicarakan hal itu kepada Penjabat Bupati Kubu Raya, awal pekan lalu.
Saat ini, kata Abdul Manaf, pihaknya sedang menginventarisasi kelompok-kelompok mana saja yang menurutnya bisa dibina untuk pengembangan peternakan terpadu tersebut. Sektor unggas seperti ayam potong juga menjadi salah satu prioritas.
"Untuk stok Kota Pontianak, selama ini sebagian besarnya didatangkan dari Kabupaten Kubu Raya. Potensi seperti ini yang harus kita dukung," tegasnya.
Ia mengakui potensi di Kubu Raya sangat besar dan berpotensi untuk dikembangkan, apalagi berkaitan dengan KTM. Meski begitu, pengembangan peternakan terpadu tersebut tetap saja memiliki kendala. Salah satunya, kata Abdul Manaf, keterbatasan SDM, seperti tenaga dokter hewan dan sarjana peternakan.
"Saya menyarankan Pj Bupati Kubu Raya seperti yang saja sarankan di Kabupaten Kayong Utara, yakni dengan cara mengontrak tenaga ahli tersebut," katanya.
Apalagi Kubu Raya, merupakan memiliki pintu masuk yang vital, seperti Bandara supadio dan lainnya.
"Saya menyarankan kepada para bupati, pertama mengirimkan putra daerahnya ke luar daerah untuk disekolahkan. Kedua, sementara masih menunggu tenaga tersebut, kontrak tenaga saja. Kalau ada kesempatan formasi pegawai. Masukkan pegawai," sarannya.
Menurutnya, untuk luas wilayah KKR, paling sedikit butuh 5 orang. termasuk menyangkut aspek laboratorium dan kebijakan serta yang terjun langsung ke lapangan.
"Dengan dipenuhinya kebutuhan SDM tersebut, program pengembangan peternakan terpadu di Kubu Raya tentu akan mengalami peningkatan yang signifikan. Tinggal dukungan dari berbagai pihak saja," ujarnya. (adi)

Predator Pemangsa Manusia Berkeliaran di Kubu Raya


Kubu Raya, BERKAT.
Warga Desa Tanjung Saleh Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya kembali dihebohkan keganasan binatang buaya. Setelah awal Februari 2008 lalu menewaskan Nawir (38). Rabu (23/4) kemarin sekitar pukul 11.00 WIB siang bolong, giliran Kalot Amin (60) diterkam buaya saat mencari udang dengan alat 'rompong' (alat tradisional penangkap udang, red) di perairan Sepok Keropok Desa Tanjung Saleh.Menurut keterangan saksi mata, Hamid (45) yang saat kejadian bersama korban mencari udang, tidka ada tanda-tanda keberadaan buaya tersebut di sekitar tempat kejadian."Ala Med. Saye dengar Pak Kalot tibe-tibe memanggil. Begitu saya lihat, ternyata Pak Kalot sudah diseret buaya," kata Hamid.Padahal, kata Hamid, kedalaman air saat itu hanya ukuran pinggang orang dewasa. Saat rekannya diseret buaya, Hamid pun langsung mengambil sampan dan menghampiri temannya yang masih belum terlepas dari gigitan buaya. Begitu ia hendak memukul buaya tersebut dengan pancang (kayu) rompong, gigitannya langsung dilepas. "Saye nengok buaya tu melepaskan gigitannye, Pak Kalot pon langsung saye angkat ke sampan," cetita Hamid lagi.Akibat kejadian tersebut, Hamid masih trauma dan belum berani melaut mencari udang. Begitu pula dengan nelayan lainnya. Melihat kejadian tersebut sudah seringkali terjadi, sebagian besar nelayan mengurungkan niatnya melaut. Meski korban sempat dibawa ke Puskesmas Pembantu yang ada di desa tersebut. Namun dalam perjalanan korban yang meninggalkan dua istri dan enam orang anak inipun menghembuskan nafas terakhirnya.Istri korban, Lehot (35) tidak kuasa menahan isak tangis. Kejadian mendadak tersebut kontan membuatnya merasa kehilangan.Menurut Ketua RT 20/RW 4, Desa Tanjung Saleh Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, Idris kejadian serupa sudah yang ke tujuh kalinya. Beberapa waktu lalu kedatangan Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Dinas Kehutanan Kalbar ke sini tidak membawa hasil."Mereka (KSDA, red) ketakutan dengan buaya-buaya tersebut. Karena senjata tidak memuaskan, mereka tidak berani melepas tembakan," kata Idris.Ia memohon kepada instansi terkait untuk segera menanggapi permasalah keganasan buaya tersebut. "Jiwa kami di sini terancam," tegasnya. Anggota DPRD Provinsi Kalbar, H. Sy. Abdullah Al-Qadrie, SH, MH dihubungi via seluler meminta permasalahan tersebut segera dikoordinasikan. "Jika memang KSDA tidak sanggup, segera carikan solusinya," kata legislator yang lahir di desa Tanjung Saleh ini. Belum sempat Kalot Amin disemayamkan, sekitar pukul 15.00 WIB, di Pematang Makmur, Desa Punggur Besar Kecamatan Sungai Kakap tidak seberapa jauh dari lokasi kejadian, seekor buaya berukuran 5 meter ditemukan warga.Menurut M. Yasin, buaya yang ditemukannya itu sudah tidak bernyawa dan diperkirakan sudah mati selama empat hari. Setelah membelah tubuh buaya tersebut, di dalam perutnya ditemukan sebuah mata pancing yang digunakan pawang buaya untuk menangkap buaya tersebut dan beberapa helai rambut manusia yang diduga korban sebelumnya."Untuk di Punggur Besar saja sudah dua kali terjadi penyerangan buaya. tahun lalu, seorang warga ditemukan tanpa kepala. Sedangkan 15 hari lalu, warga lainnya juga tewas dengan kedua tangan putus dan luka parah," kata Effendi, Kades Punggur Besar yang saat itu langsung meninjau penemuan buaya tersebut. Effendi berharap, harus ada upaya menangani keganasan buaya tersebut. "Kalau pemerintah tidak mampu, kita gunakan pawang saja. Biar mereka yang memancing buaya tersebut. Ini sudah menyangkut nyawa manusia," tegasnya. (adi)

Senin, 14 April 2008

Ruang rindu buat my family yang jauh

Foto-foto ini ku upload khusus buat my brother yang ada di negeri jiran. Semoga wajah mereka mampu meneduhkan rasa rindu mu............



Sabtu, 12 April 2008

nyang oful




Display My Family

Bila orang yang terdekat tak ada di hati kita, maka sebaiknya bersiap-siaplah mengalami hal yang terburuk yang jarang terjadi di dunia.....






Jumat, 11 April 2008

Kamis, 10 April 2008

Jangan Setengah Hati Berantas IL

Setelah kedatangan Bapak Kapolri ke Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat beberapa waktu lalu, sejumlah media massa baik lokal maupun tingkat nasional semuanya mengangkat kebobrokan pembalakan liar yang telah terjadi puluhan tahun.
Bahkan, di beberapa media elektronik nasional tidak segan-segan menayangkan pengakuan mantan pelaku Illegal Loging untuk membongkar dengan siapa saja mereka pernah bekerja sama.
Alhasil, dari kebanyakan yang mengakui aksi pembabatan kekayaan hutan Kalbar tersebut tidak sedikit yang mendeskreditkan oknum-oknum yang memback-up mereka dalam rangka memuluskan aksinya.
Untuk itu sebagai masyarakat yang merasa peduli dengan kelestarian alam yang ada di Kalbar, saya meminta kepada penegak hukum hendaknya memiliki komitmen memberantas illegal loging yang ada.

Senin, 07 April 2008

Nikmatnya Manisan Buah Kelapa



Kubu Raya, BERKAT.
Ada-ada saja kreativitas masyarakat pesisir Kabupaten Kubu Raya yang memanfaatkan ketersediaan buah-buahan yang melimpah di alam. Seperti manisan buah kelapa yang memiliki rasa yang khas dan cukup enak untuk disajikan sebagai cemilan.
Bahkan pada hari raya, manisan buah kelapa menjadi salah satu sajian untuk tamu yang bertandang ke rumah.
Pohon kelapa merupakan sebuah pohon yang memiliki berbagai manfaat, tidak heran jika buah kelapa yang biasa dijadikan bahan dasar minyak goreng dan santan masakahn tersebut dioleh menjadi makanan ringan yang bisa menambah penghasilan masyarakat pesisir Kabupaten Kubu Raya.
Seperti di Desa Padang Tikar Kecamatan Batu Ampar yang sudah turun temurun membuat manisan dari buah kelapa.
Sekarang, masayakat di desa yang menjadi pusat pemerintahan kecamatan tersebut berfikir lebih maju. Meski dengan cara yang masih tradisional, mereka mencoba memperkenalkan kepada dunia luar makanan tradisional yang selama ini hanya mereka konsumsi sendiri.
Hasilnya, meski pengemasan secara sederhana, pada pameran MTQ ke 25 tingkat Kabupaten Pontianak di Kecamatan Sungai Kakap beberapa waktu lalu, manisan kelapa terbilang laris dan disukai oleh pembeli.
Salah seorang pengelola pameran asal Kecamatan Batu Ampar, Jamalia menjelaskan untuk pembuatan manisan buah kelapa tidak membutuhkan bahan-bahan yang terlalu mahal. Artinya, dengan modal yang relatif kecil, pengelolaan manisan buah kelapa bisa dilakukan.
"Biasanya untuk satu kotaknya manisan buah kelapa dijual seharga Rp 2.500. Namun hingga saat ini pemasaran produk tersebut sangat terbatas, karena belum dipasarkan secara maksimal," katanya. (adi)

Kerajinan Lidi Kelapa


Kubu Raya, BERKAT.
Pohon kelapa merupakan salah satu pohon multi guna. Dari buah hingga batangnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Seperti sabut kelapa yang dijadikan keset kaki.
Begitu pula dengan lidi kelapa. Biasanya digunakan sebagian besar masyarakat yang ada di pedesaan sebagai penyapu yang tidak terlalu memiliki harga jual yang tinggi, namun kali ini dengan sentuhan kreativitas tangan ibu-ibu PKK Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya, lidi kelapa tersebut dianyam menjadi tatakan berbagai peralatan masak.
Hasilnya, dengan modal yang relatif kecil, bisa menghasilan keuntungan yang lumayan besar. Karena perbuah tatakan lidi kelapa tersebut dijual dengan harga berkisar Rp 5.000-Rp 10.000.
Menurut Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Batu Ampar, Ngadini, Kecamatan Batu Ampar memiliki potensi pohon kelapa yang melimpah.
"Jadi, apa salahnya jika potensi yang ada dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna," katanya di sela-sela pameran MTQ ke 25 Kabupaten Pontianak di Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, akhir pekan lalu.
Namun, saat ini, menurut Ngadini, proses pemasaran merupakan kendala harus dihadapi oleh para pengrajin tatakan lidi kelapa tersebut. "Kalau pemerintah bisa mendorong masalah pemasaran, kita siap memproduksi dalam jumlah yang besar. Hasilnya, tentu penghasilan masyarakat, terutama kaum ibu rumah tangga bisa meningkat," jelasnya. (adi)

Batu Ampar Kaya Makanan Tradisional

Kubu Raya, BERKAT.
Kecamatan Batu Ampar merupakan salah satu dari 9 kecamatan yang ada di Kabupaten Kubu Raya. Di kecamatan sebagian besar kawasan perairan ini memiliki potensi berbagai makanan tradisional yang dikelola dan diberdayakan oleh masyarakatnya.
Seperti roti kaf dari tepung tapioka, terasi udang, pisang salai, teri mie, keripik pisang, sirup dari jeruk nipis, dodol kelapa, manisan kelapa, dan lainnya.
Makanan-makanan tradisonal tersebut, sejak beberapa tahun lalu dikelola oleh masing-masing kelompok kerja PKK Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya yang dipusatkan di Desa Padang Tikar.
Pengemasan makanan tradisional tersebut hanya mengandalkan kreativitas anggota PKK, sehingga memiliki kualitas tampilan apa adanya. Namun, masalah rasa, makanan tradisional tersebut cukup menggoda lidah bagi siapa saja yang mencoba mencicipinya. Dan cara pengolahan yang dilakukanpun masih menggunakan cara yang tradisional dan dalam jumlah yang masih terbatas.
Seperti pisang salai yang dibuat dengan cara pengasapan. Tanpa pemanis dan pewarna buatan dan rasanya tak kalah manis dengan gula, serta kaya akan serat alami yang baik untuk pencernaan.
Menurut salah seorang anggota Tim Penggerak PKK Kecamatan Batu Ampar, Dra. Jamalia, belum adanya trainingan atau arahan merupakan sebab utama pengemasan makanan tradisional tersebut dilakukan secara sederhana.
"Pada dasarnya kami ingin memproduksi makanan tradisional tersebut agar bisa menembus pasaran luas. Tapi berbagai kendala termasuk minimnya dukungan pemerintah membuat kami mengelola secara swadaya," katanya.
Selama ini, makanan tradisional tersebut hanya dipasarkan di sekitar wilayah Kecamatan Batu Ampar. Bahkan, tidak jarang ketika orang mengunjungi Kecamatan Batu Ampar, makanan tradisional tersebut menjadi buah tangan yang khas untuk dibawa pulang. (adi)

Jumat, 04 April 2008

Pinang Kering, Komoditas Unggulan Tak Kenal Musim Panen



Sungai Kakap, BERKAT.
Membicarakan buah pinang kering, serasa tak habis-habisnya memmbincangkan tentang sebuah manfaat tumbuhan yang dahulunya hanya digunakan oleh orang tua di perkampungan sebagai pelengkap makanan sirih. Uniknya, komoditas unggulan yang belum dikonsentrasikan oleh pemerintah untuk pengembangannya ini tidak memiliki musim panen seperti beberapa buah lainnya. Artinya setiap satu minggu sekali buah pinang selalu dipanen dan dikeringkan kemudian dijual.
Di Desa Punggur Besar Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, sebagian besar masyarakatnya memanfaatkan buah pinang. Padahal menurut salah petani pinang, warga Parit Sarim Desa Punggur Besar Kecamatan Sungai Kakap, Ahmad Adan (46) pada era tahun 1990-an, buah pinang sama sekali tidak menghasilkan, namun beberapa tahun belakangan sejak permintaan buah pinang meningkat masyarakatpun berlomba-lomba menanam pinang.
"Kalau saya sudah sebelas tahun mulai menanam pohon pinang. Hasilnya saya bisa panen sebanyak 500 kilogram perminggu sekali," ujar Adan yang memiliki kebun pohon pinang hampir empat hektar ini.
Meski harga pinang kering saat ini berkisar Rp 4.000 perkilogramnya, masyarakat tetap bersemangat mengeringkan buah yang dijadikan bahan pewarna untuk perusahaan tekstil ini. Tidak jarang di setiap halaman rumah warga Desa Punggur Besar terhampar buah pinang berbagai rupa, ada yang masih memiliki kulit, ada juga yang sudah dikupas.
Namun, hingga saat ini sorotan dinas terkait masih belum maksimal melakukan pembinaan terhadap masyarakat yang menjadikan komoditas unggulan ini sebagai penghasilan sampingan, padahal jika potensi ini dikembangkan, bukan hal yang mustahil dengan kesuburan lahan yang ada Kalbar bisa menjadi pengekspor pinang bagi dunia tekstil. (adi)

Wisata Ziarah di Makam Pendiri Kerajaan Kubu

Kubu Raya, BERKAT.
Kecamatan Kubu merupakan satu-satunya kecamatan yang memiliki keunikan tersendiri di Kabupaten Kubu Raya. Di kecamatan ini sebagaimana tercatat dalam sejarah pernah berdiri sebuah Kerajaan Kubu. Dan hingga saat ini makan seorang pendirinya, Sy. Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus yang juga menjadi raja masih tetap terjaga dan terawat sebagai salah satu potensi wisata ziarah yang ada di kabupaten termuda di Kalbar ini.
Komplek pemakaman keluarga kerajaan tersebut, memiliki nuansa khas keraton. Selain itu pada sisi kanan dan kiri makam Sy. Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus terdapat dua buah meriam yang seudah berumur ratusan tahun.
Sy. Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus yang tercatat lahir pada hari Kamis, 17 Ramadhan 1144 penanggalan hijriah dan wafat pada hari Ahad (Minggu, red) 12 Dzulqaedah 1209 Hijriah.
Tidak hanya Disamping makam Sy. Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus yang berada di komplek makam tersebut, Raja Kerajaan Ambawang, Sy. Alwi bin Sy. Idrus Al-Idrus juga berada di samping makam Sy. Idrus Abdurrahman Al-Idrus.
Menurut Camat Kubu, Effendi, SH, potensi wisata ziarah tersebut seharusnya didukung dengan pembangunan infrastruktur di sekitar wilayah tersebut. "Karena selama ini infrastruktur menuju komplek makam Raja Kubu sangat mengkhawatirkan," katanya. (adi)

Kembangkan Wisata Sungai Di Kawasan Perairan Kubu Raya

Kubu Raya, BERKAT.
Kabupaten Kubu Raya yang memiliki luas wilayah 6.985,20 kilometer persegi sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan perairan. Potensi tersebut merupakan sebuah peluang bagi kabupaten yang didukung 9 kecamatan ini untuk dikembangkan wisata sungai pada kawasan tersebut. Seperti hutan bakau yang ada di Kecamatan Rasau Jaya, Kubu, Batu Ampar, Terentang dan lainnya yang memiliki keindahan tersendiri bila kita menyusurinya dengan angkutan air. Bahkan di kawasan tersebut dari dulu hingga sekarang menjadi sentral bagi nalayan tradisional untuk mencari nafkah.
Tidak hanya keindahan kawasan hutan bakau yang dijadikan aset untuk potensi wisata. Di kawasan tersebut juga bisa disediakan fasilitas memancing yang disediakan untuk pengunjung lokal. "Karena saat ini di kawasan tersebut masih banyak terdapat hewan-hewan air yang menjadi bahan dasar sea food.
Apalagi menjelang senja saat menghabiskan waktu menyisiri sepanjang deretan hutan bakau yang memiliki akar unik dan indah. Belum lagi kala matahari terbenam, sejumlah pasukan burung di sela-sela menguningnya cahaya matahari seolah menjadi perpaduan pemandangan yang mampu memberikan kepuasan saat menjadi saksi keindahan alam tersebut.
Menurut Ketua Lembaga Pemantau Pembangunan Daerah (LPPD), Drs. Dede Junaidi, pembangunan wisata perairan tersebut sebaiknya dipusatkan di Kecamatan Rasau Jaya. Karena selama ini Rasau Jaya merupakan gerbang bagi kecamatan lain untuk menuju pusat pemerintahan Kabupaten Kubu Raya.
"Fasilitas dermaga yang sudah ada di Rasau Jaya tinggal ditingkatkan. Dampaknya, perekonomian masyarakat di situ diharapkan berkembang tentu PAD pun akan meningkat," katanya.
Konsepnya, kata Dede seperti Negara Thailand yang serius menata kawasan sungainya menjadi potensi wisata. "Jika Kubu Raya bisa demikian, tentu kabupaten termuda di Kalbar ini bisa menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Kalbar," ungkapnya. (adi)

Kamis, 03 April 2008

Kelebihan Taman Nasional Kalbar



Pontianak, BERKAT.
Dari 50 Taman Nasional (TN) yang dimiliki Indonesia, empat di antaranya berada di Kalimantan Barat, yakni TN Betung Kerihun (800.000 hektar), TN Danau Sentarum (132.000 hektar) yang keduanya terletak di Kapuas Hulu, TN Bukit Baka Bukit Raya (181.090 hektar) yang terletak di dua daerah yaitu Kabupaten Sintang dan Melawi serta TN Gunung Palung (90.000 hektar) terletak di Kabupaten Kayong Utara.
Dari keempat taman nasional tersebut, masing-masing memiliki kelebihan tersendiri. Seperti TN Betung Kerihun yang merupakan hutan hujan tropis oriental yang berada tepat di jantung Kalimantan atau termasuk dalam jajaran pegunungan muller. Di daerah ini juga diperkirakan masih memiliki sekitar 1.030 ekor populasi orang utan (pongo pygmaeus).
Begitu pula dengan TN Bukit Baka Bukit Raya. Secara administrasi kawasan ini memang masuk dalam dua wilayah (Provinsi Kalbar dan Kalteng). Habitat berbagai jenis satwa serta tumbuhan langka dan endemik banyak terdapat di kawasan ini. Seperti barbourua kalimantanensis, spesies katak yang sudah dalam kategori kritis.
Sama halnya dengan TN Danau Sentarum yang berjarak sekitar 700 kilometer dari muara Sungai Kapuas (Pontianak) ini merupakan Ramsar Site kedua di Indonesia dan merupakan hutan rawa tergenang terluas di Kalimantan. Di danau ini habitat 147 jenis mamalia, 310 jenis burung, 226 jenis ikan dan tumbuhan endemik Kalimantan masih terdapat dan dilestarikan.
Keistimewaan TN Nasional Gunung Palung dari taman nasional lainnya adalah kawasan ini merupakan satu-satunya taman nasional di Indonesia yang memiliki tipe ekosistem terlengkap dan merupakan laboratorium ekosistem bagi hutan hujan tropika Kalimantan.
Dari keseluruhan taman nasional tersebut selain sebagai kawasan lindung yang dijaga oleh pemerintah, kawasan tersebut juga berpotensi sebagai tempat wisata, penelitian, edukasi sumber air bersih, irigasi dan lainnya. (adi-diambil dari berbagai sumber)

Lentera Penerang Bagi Arwah Leluhur



Singkawang, BERKAT.
Pawai lampion merupakan salah satu rangkaian acara untuk memeriahkan perayaan Cap Go Meh di Kota Singkawang.
Perayaan yang dikemas cukup apik ini mampu menarik para pengunjung, meski tak seramai pengunjung Cap Go Meh, pawai lampion juga mampu memberi kesan warna-warni pariwisata Kota Singkawang.
Lampion atau lentera yang dihias dengan berbagai ukuran tersebut diarak keliling kota menggunakan mobil hias yang khas dengan nuansa etnis Tionghwa. Tidak hanya itu, puluhan naga yang bercahaya juga memeriahkan arak-arakan malam hari tersebut. Begitu juga dengan para tatung yang akan beraksi pada perayaan Cap Go Meh beserta dua belas shio penanggalan imlek juga turun ke jalan memeriahkan pawai lampion. Bahkan, miniatur klentengpun juga menyemarakkan pawai lampion yang diperlombakan oleh Pemerintah Kota Singkawang tersebut.
Secara filosofis, menurut kepercayaan warga Tionghwa di Kota Singkawang, pawai lampion memiliki arti sebagai jalan terang bagi arwah para leluhur menuju ke surga.
Meskipun hujan mengguyur Kota Amoy itu, warga tetap saja memadati lokasi kegiatan dan sepanjang rute yang dilewati arak-arakan tersebut. Selain berbagai atraksi memeriahkan pawai lampion sepanjang belasan kilometer ini, Walikota Singkawang, Hasan Karman, SH, MM dan Wakil Walikota Singkawang, Drs. Edy Yakob, M. Si juga turun langsung.
Akibatnya, beberapa kawasan jalan menjadi macet total. Seperti Jalan Diponegoro, banyak kendaraan yang terjebak kemacetan, meski begitu mereka memanfaatkan kondisi tersebut untuk menyaksikan arak-arakan lampion yang lewat.
Walikota merasa yakin perayaan Cap Go Meh mampu menarik wisatawan baik domestik maupun manca negara. "Ini merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)," ujarnya singkat. (adi)

Memborong Barang yang Diberkati Dewa



Singkawang, BERKAT.
Setelah melaksanakan arak-arakan tatung, menjelang sore atau sekitar pukul 14.00 WIB, di sebuah altar yang sudah ditentukan oleh panitia pelaksana digelar pasar lelang yang menjual berbagai jenis barang yang berhubungan dengan Cap Go Meh.
Ada berbagai makanan, tebu, babi dan lainnya yang kesemua barang tersebut dipercaya dan diyakini telah diberkati oleh para dewa.
Tidak hanya warga sekitar, para pengunjung yang datang dari luar daerah bahkan luar negeripun tidak sayang merogoh dompetnya untuk membeli barang-barang yang dianggap menarik bagi mereka.
Konon, menurut kepercayaan etnis Tionghwa, membeli barang tersebut diyakini dapat memperoleh keuntungan dalam berdagang maupun keselamatan dalam kehidupan. Bahkan antusias masyarakat begitu terlihat ketika harga sudah mulai dibuka, tak sedikit orang yang mengacungkan tangan agar bisa menawar barang tersebut.
Sebatang tebu misalnya, ketika sudah diberkati harga perbatangnya bisa mencapai Rp 10.000.000. Kalau belum diberkati, biasanya harga di pasar tebu tersebut hanya berkisar sekitar Rp 20.000-Rp 30.000.
"Tebu berarti sebagai pelaris bagi siapa yang berdagang," ujar salah seorang pembeli, Chung Hyat Sun yang sudah memegang dua batang tebu.
Dikatakannya, tebu tersebut akan diikat di depan tokonya yang terletak persis si pusat Kota Singkawang.
Menjelang terbenam matahari, acara lelang pun berakhir, biasanya pihak penyelenggara bisa memperoleh keuntungan ratusan juta rupiah dari hasil penjualan tersebut. (adi)

Cap Go Meh Even Wisata Kalbar

Singkawang, BERKAT.
Perayaan Cap Go Meh yang dilaksanakan setiap tanggal 15 penanggalan imlek merupakan puncak perayaan tahun baru imlek. Di Kalbar perayaan tersebut kini dipusatkan di Kota Singkawang.
Sebagai kota tujuan wisata, Kota Singkawang yang memiliki luas wilayah 56.542 hektar ini tidak hanya memiliki potensi wisata adat budaya saja. Kota ini juga terletak diantara laut, muara, gunung dan sungai.
Potensi ini juga didukung oleh Pemerintah Kota Singkawang, seperti yang diungkapkan Walikota Singkawang, Hasan Karman, SH, MM bahwa perayaan Cap Go Meh harus dilaksanakan setiap tahun dan dirayakan dengan cara yang berbeda dan meriah.
Melihat peluang yang cukup besar tersebut, Pemkot Singkawang tidak segan-segan mengagendakan tradisi itu sebagai agenda wisata tahunan.
Dampaknya, sekitar dua minggu menjelang perayaan Cap Go Meh, seluruh hotel dan penginapan di Kota Amoy tersebut sudah dipenuhi dengan pesanan para tamunya. Apalagi bagi orang yang ingin memesan kamar sehari atau dua hari menjelang Cap Go Meh, banyak mereka yang tidak bisa mendapatkan fasilitas tersebut. Meskipun mereka harus membayar mahal.
Satu sisi, perayaan yang mempertontonkan atraksi tatung yang sepktakuler tersebut, seharusnya perlu dievaluasi. Ramainya pengunjung yang datang, bahkan melebihi jumlah penduduk Kota Singkawang tidak diimbangi dengan pelayanan di rumah makan atau restoran yang memuaskan, sehingga banyak para pengunjung makan bersama rombongan ke daerah lainnya. Untuk itu ke depan perlu kiranya, segala bidang perlu dipersiapkan. (adi)

Singkawang, Pusat Perayaan Cap Go Meh



Pontianak, BERKAT.
Di Kalimantan Barat pusat perayaan Cap Goh Meh dipusatkan di Kota Singkawang dan biasanya ditandai dengan arak-arakan para Tatung menuju vihara atau klenteng. Perayaan ini dipercaya sudah dilaksanakan turun temurun sejak 200 tahun yang lalu.
Dengan berbagai atraksi tatungnya yang berasal dari berbagai vihara yang tersebar di seluruh Singkawang.
Biasanya, dalam satu klenteng kadang terdiri lebih dari 1 orang Tatung. Pagi hari di hari ke 15 perayaan tahun baru imlek ini, para Tatung akan berkumpul untuk melakukan sembahyang kepada Langit di altar yang sudah disiapkan. Perjalanan para Tatung di tandu dengan menggunakan tandu yang beralaskan pedang tajam atau paku tajam, sambil memamerkan kekebalan tubuhnya. Ada juga yang naik tangga pedang, biasanya terdiri dari 36 atau 72 pundak/tangga.
Semakin bisa naik ke atas, artinya semakin kuat juga ilmu Tatung tersebut. Kegiatan ini telah mulai dikembangkan sebagai objek pariwisata untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Tak heran jika bertepatan dengan perayaan Cap Go meh, di Kota Singkawang terlihat padat oleh pengunjung yang datang dari berbagai penjuru daerah di Kalbar.
Potensi inilah yang menjadikan Kota Singkawang menjadi salah satu tujuan wisata di Kalbar.
Konon, roh-roh yang dipanggil untuk dirasukkan ke dalam Tatung diyakini merupakan para tokoh pahlawan dalam legenda Tiongkok, seperti panglima perang, hakim, sastrawan, pangeran dan lainnya.
Usai perayaan Cap Go Meh, biasanya masyarakat Singkawang langsung melakukan lelang besar-besaran pernak pernik yang digunakan oleh tatung, menurut kepercayaan masyarakat setempat, barang-barang tersebut bisa membawa hoki, apalagi digunakan untuk berdagang. (adi)

Selasa, 01 April 2008

Manfaat Arang Mangrove untuk Ekspor

Kubu Raya, BERKAT.
Hutan mangrove selain menjadi kawasan wisata saat ini sudah dimanfaatkan dan diolah menjadi bahan dasar arang untuk kebutuhan ekspor yang digunakan untuk berbagai macam oleh negara maju seperti Jepang dan China.
Hutan mangrove yang tumbuh di muara sungai dan daerah pasang surut atau tepi laut ini bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut.
Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen.
Kabupaten Kubu Raya yang memiliki kawasan perairan mencapai 67 persen sebagian besar lahannya ditumbuhi pohon yang pada umumnya mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor).
General Manager PT Bina Ovivipari Semesta (BIOS), Ateng Surya Sanjaya, menyebutkan produksi arang dari tanaman mangrove bisa mencapai 180.000 matrik ton per tahun dari lahan yang sudah diijinkan seluas 10.400 hektar di Kabupaten Kubu Raya.
"Tapi yang efektif kita gunakan untuk keperluan produksi hanya 6.000 hektar saja. Sisanya ditetapkan sebagai kawasan konservasi untuk kelestarian ekosistem di area tersebut. Karena daerah tersebut kebanyakan kawasan peralihan antara darat dan laut," jelasnya saat kunjungan Penjabat Bupati Kubu Raya di kawasan hutan mangrove Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya akhir pekan lalu.
Dikatakannya, tidak perlu khawatir dengan pohon yang sudah ditebang. Karena sekitar 2-3 tahun bekas tebangan akan tertutup kembali. "Kalaupun tidak tumbuh, kita sudah mempersiapkan bibit dan melakukan penanaman. Karena 70-80 persen mangrove yang ditebang tertutup secara alami. Malah pihak perusahaan melakukan penanaman 20-30 persen di area tersebut," jelasnya.
Melihat pemanfaatan teknologi tersebut, Koordinator Kesehatan Kubu Raya, dr. H. Nursyam Ibrahim, M. Kes merasa heran mengapa arang katanya sebagian besar digunakan oleh orang Jepang untuk masak tersebut tidak dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia yang memiliki bahan baku melimpah. "Kalau mereka berani impor, mengapa kita tidak bisa menggunakannya. Ini menunjukkan nilai ekonomis yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah," katanya yang juga ikut dalam kunjungan tersebut. (adi)

2009, KKR Jadi Pengekspor Chip Mill

Kubu Raya, BERKAT.
Siapa sangka Kabupaten Kubu Raya yang sebagian besarnya terdiri dari kawasan perairan, namun pada tahun 2009 nantinya kabupaten termuda di Kalbar tersebut dicanangkan pengekspor chip mill (bahan baku kertas dalam bentuk serpihan kayu, red) dari kayu akasia terbesar di Kalbar.
Seperti kita ketahui, keberadaan kayu akasia sebagian besar digunakan sebagai tanaman untuk peneduh taman dan pinggiran jalan.
Bahan baku chip mill tersebut menurut Direktur PT Bina Silva Nusa, Jaya Iskandar sebagian besarnya diolah dari pohon akasia yang saat ini sudah tumbuh di lahan yang sudah mengantongi HGU seluas 9.040 hektar di Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya.
"Bukan hanya itu, saat ini para penduduk sekitar termasuk beberapa kecamatan terdekat seperti Kubu, Terentang dan lainnya yang memiliki lahan sudah diarahkan untuk menjadi pemasok pohon akasia," katanya kepada Penjabat Bupati KKR dan sejumlah wartawan saat berkunjung ke lokasi perkebunan akasianya akhir pekan lalu.
Saat ini kata Jaya Iskandar, pembangunan pabrik pengolahan dari kayu akasia menjadi chip mill sedang dibangun. "Sekitar bulan Agustus bangunan pabrik akan rampung," jelasnya.
Jumlah investasi yang besar untuk pembiayaan tenaga ahli dan lainnya merupakan alasan utama mengapa pembangunan pabrik kertas belum diupayakan di Kalbar.
"Yang terpenting untuk ke depannya, pengolahan chip mill ini bisa berdampak baik bagi masyarakat dan dapat memberikan kontribusi bagi PAD Kabupaten Kubu Raya," harap Jaya Iskandar. (adi)

Istana Kerajaan Kubu Situs Sejarah Wisata

Kubu Raya, BERKAT.
Kecamatan Kubu Kabupaten Kubu Raya memiliki kelebihan ter-sendiri dari 8 kecamatan lainnya. Tidak banyak kecamatan yang memiliki identitas yang mencirikan kekhasan daerah itu sendiri. Sementara Kecamatan Kubu sejak zaman dahulu memiliki iden-titas tersebut yakni sebuah istana yang sarat dengan nilai budaya dan adat istiadat.
Kerajaan Kubu didirikan oleh Sy. Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus, meski sempat terjadi polemik pada tataran penerusnya, setelah mendapatkan nasihat dari Sekretaris Jenderal Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara (FSKN) juga selaku Ketua Lembaga Pengamatan Penelitian Kraton-Kraton se-Nusantara (LP2K), Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Gunarso G Kusumodiningrat, pada 15 Maret 2007 lalu di Pontianak, bahwa dari berbagai polemik yang terjadi hendaknya kerabat dari Kerajaan Kubu segera membentuk Majelis Adat (MA).
Atas kesadaran itulah saat ini berbagai zuriat dari kalangan Al-Idrus mencoba untuk membangkitkan tradisi, adat istiadat dan budaya yang dahulu selalu dilakukan oleh para pendahulu.
Upaya tersebut juga didukung dengan pembangunan replika istana. Meski saat ini belum selesai proses pembangunannya, hal itu merupakan sebuah titik terang untuk pelestarian berbagai aset yang berpotensi untuk dikelola agar dapat menarik para wisatawan domestik maupun manca negara.
Untuk itu, ke depannya menurut Camat Kubu, Effendi, SH kawasan tersebut akan ditata sedemikian rupa sehingga mampu menarik wisatawan untuk mengunjungi situs sejarah wisata tersebut. (adi)