Rabu, 07 Mei 2008

SMUN 1 Kuala Mandor B Kabupaten Induk Hanya Bangun Gedung


Kubu Raya, BERKAT.
Sebagai kabupaten termuda di Kalbar, sebagian besar fasilitas dunia pendidikan warisan kabupaten induk di Kabupaten Kubu Raya sangat mengkhawatirkan. Salah satunya SMAN 1 Kecamatan Kuala Mandor B Kabupaten Kubu Raya. Salah satu bangunan sekolah yang baru dibangun tersebut sama sekai tidak memiliki fasilitas pendukung selain gedung yang baru.
Meski tahun jaran 2007/2008 SMAN 1 Kuala Mandor B sudah menerima 23 murid baru angkatan pertama, namun dengan fasilitas bangunan gedung saja, Kepala SMAN 1 Kuala Mandor B, Jumadi, S. Pd tetap optimis memberikan pendidikan kepada masyarakat Kuala Mandor B.
"Untuk kursi dan mejanya, kita gunakan bekas dari SMAN 1 Sungai Pinyuh. Meski kondisinya rusak, sampai di sini kita perbaiki. Yang penting anak bisa belajar," ucap Jumadi.
Ia berharap, pihak pemerintah baik kabupaten induk atau Kubu Raya segera memperhatikan dunia pendidikan. "Kehadiran SMAN 1 di sini sangat membantu masyarakat, terutama bagi mereka ekonominya yang pas-pasan," ungkapnya. (adi)

Minggu, 04 Mei 2008

Beras Bulog Berkedok Pakan Ternak Diselundupkan ?



Pontianak, BERKAT.
Sebanyak 100 ton (2000 karung) beras Bulog dari Jakarta diduga diselundupkan ke Pontianak melalui Pelabuhan Dwikora Pontianak pada Kamis (31/1) kemarin pagi. Beras-beras milik CV SB atas nama TT tersebut diangkut menggunakan kapal barang dengan nama AN yang bersandar di dermaga 03.
Sekilas tampak di atas geladak kapal hanyalah karung-karung yang berisikan pakan ternak hewan ayam, namun ketika dilakukan pembongkaran oleh awak kapal, dibawahnya ternyata berisikan karung beras Bulog.
Pada karung beras yang lambang matahari berwarna merah tersebut bertuliskan beras Bulog dengan berat bersih 50 kg yang alamatnya Jalan Jenderal Gatot Subroto Nomor 49 Jakarta. Sedangkan karung untuk makanan ayam berlabelkan berwarna hijau itu bertuliskan pakan ternak ayam dengan ukuran 50 kg.
Menurut salah seorang buruh pelabuhan, beras yang dipikulnya berasal dari Jakarta. Ia tidak mengetahui siapa pemilik beras dan pakan ternak tersebut. "Saya tidak tahu asalnya," katanya disela melakukan aktivitas bongkar muat barang-barang tersebut.
Kontan saja, mendapatkan laporan adanya dugaan beras selundupan, Kapoltabes Pontianak, AKBP Drs. H. Awang Anwaruddin langsung saja memerintahkan anggotanya di KP3L AKP Iwan Setiawan untuk menahan beras tersebut sebelum diangkut ke gudang sang pemilik untuk dilakukan pemeriksaan. Sang pemilik CV. SB pun dipanggil untuk dimintai keterangan oleh pihak Poltabes Pontianak. "Setelah kami lihat dokumennya benar dan sesuai dengan jumlah isinya," kata Kapoltabes saat dikonfirmasi BERKAT via ponsel.
Disamping itu, Kapoltabes katakan pihaknya juga telah melakukan croschek ke Bulog dan Disperindag yang menyatakan pengiriman itu sesuai aturan berdasarkan surat edaran Bulog pusat tahun 2008. "Bahwa diperbolehkan dan dibenarkan untuk mengirim beras antar pulau," ungkap Kapoltabes.
Nada yang sama pun diucapkan Kepala Bulog Divreg Kalimantan Cabang Kalbar, H. Muchtar Sa'ad yang memperbolehkan semua orang untuk membeli beras Bulog darimana saja selagi masih berada di wilayah Indonesia kecuali beras impor dilarang.
"Beras impor harus ada beanya," katanya.
Dia juga tegaskan, jika beras tersebut masuk dalam gudang pedagang (Pedagang Antar Pulau-PAP,red) ternyata karung yang bertuliskan beras Bulog diganti dengan karung merek lain dengan tujuan untuk menaikan harga jual, hal itu dilarang. Jika dilakukan maka sanksinya yakni izin usahanya akan dicabut. "Karena beras murah milik masyarakat," tegasnya.
Namun demikian, dia akui bahwa untuk Kamis (31/1) kemarin belum ada jadwal masuknya beras Bulog ke Kalbar. "Baru masuk sekitar tiga hari lagi dari Jawa Timur," ungkapnya.
Direncanakan beras-beras tersebut akan dibawa ke salah satu gudang di kawasan Jalan Kom Yos Sudarso dan Pasar Kapuas Besar. (adi)

Kamis, 01 Mei 2008

Giliran Buaya yang Tewas




Kubu Raya, BERKAT.
Setelah salah seorang warga Desa Tanjung Saleh Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, Kalot Amin (60) tewas pada 23 April 2008 lalu menjadi korban kesekian kalinya akibat keganasan binatang buaya, Selasa (29/4), giliran buaya dewasa berukuran lima meter tewas di-'aler' (dipancing, red) oleh seorang pawang tak jauh dari lokasi dimana Kalot Amin diterkam.
Menurut Usman, pawang buaya yang menangkap buaya tersebut, butuh waktu dua hari untuk menangkap buaya itu. "Caranya kita aler dan diberi umban seekor bebek, kemudian digantungkan ke pohon nipah dan tidak lupa diberi pelampung agar ketika umpan tersebut dimakan buaya bisa ketahuan," katanya.
Semula Usman tidak menyangka buaya tersebut berhasil diburu, saat pemeriksaan rutin aler tersebut, tiba-tiba salah satu dari delapan aler yang dipasang tak jauh dari lokasi di mana buaya tersebut memangsa korbannya hilang. Pencarianpun dilakukan. Dan sekitar dua kilometer dari lokasi pemasangan aler tersebut Usman beserta 10 warga Dusun Sepok Keropok menemukan pelampung yang dicari. Ketika menarik pelampung tersebut perjuangan beratpun terjadi. Antara warga dan buaya saling menarik, beruntung buaya saat itu sedang terluka karena sudah menelan aler yang terbuat dari besi, sehingga tenaganya sedikit melemah.
Melihat buaya yang selalu meronta dan khawatir membayakan dirinya beserta warga lainnya, akhirnya Usman menghunuskan parangnya tepat di punggung buaya tersebut, sehingga buaya itu tidak berkutik.
"Ketika kami menarik tali aler tersebut buaya itu selalu meronta. Kalau buaya itu tidak dilukai, mungkin kami yang terluka," kata Usman sebelum membelah perut buaya tersebut di muara Dusun Sepok Keropok, Rabu (29/4) lalu.
Setelah dipastikan buaya tersebut tidak bernyawa lagi, dengan dua buah motor air kecil, buaya itu dibawa masuk ke perkampungan.
Menurut Ketua RT 20/RW 4, Desa Tanjung Saleh Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, Idris untuk mengundang seorang pawang, seluruh warganya secara swadaya mengumpulkan iuran.
"Kita pahami ketika seorang pawang menangkap buaya, ia juga meninggalkan anak dan istri. Karena kita membutuhkan keahliannya tidak hanya sekali," kata Idris.
Mengenai imbalan Rp1.000.000 bagi yang berhasil menangkap buaya, menurut Idris hal itu harus direalisasikan. ""Untuk sekali menangkap buaya saja dibutuhkan paling tidak Rp800.000. Belum lagi transportasi dan lainnya," kata Idris menjelaskan.
Mendengar betita ditangkapnya seekor buaya tersebut, warga dari desa tetangga berdatangan untuk melihat langsung.
Setelah itu, buaya tersebut dibelah dan langsung di buang ke laut. (adi)