Kamis, 10 Juli 2008

Selamatkan Lingkungan, Mulai Dari Diri Sendiri


Kamaruzzaman memulai dari diri sendiri memulai untuk peduli terhadap lingkungan hidup. FOTO: NURHADI


Selamatkan Lingkungan
Mulai Dari Diri Sendiri
Kubu Raya, BERKAT.
Meski diusia yang masih relatif sangat muda, jika berbicara masalah lingkungan hidup pemerintahan Kabupaten Kubu Raya tidak kalah peduli dengan daerah lain, Jumat (6/6) kemarin di Kantor Bupati Kubu Raya, seluruh staf dan jajaran turun langsung memperingati Pekan Lingkungan Hidup se Kabupaten Kubu Raya yang diprakarsai oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda).
"Untuk sementara waktu, inilah yang dapat kami lakukan, meski bersifat lokal tetapi kami juga berusaha untuk berfikiran global," kata Ketua Panitia Pekan Lingkungan Hidup Kubu Raya, Ir. Mulyadi.
Dikatakan Kepala Bapedalda Kubu Raya ini, kegiatan tersebut dilatarbelakangi dari munculnya keprihatinan terhadap semakin menurunnya kondisi dan kualitas lingkungan.
"Kami berpendapat, jika ingin orang lain melakukan sesuatu yang kita inginkan maka kita bisa mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang. Meski hal-hal yang kecil dan sederhana. Kami telah memulai, semoga dapat diikuti dan didukung oleh semua pihak," katanya seraya mengkampanyekan hari lingkungan hidup se dunia.
Penjabat Bupati Kubu Raya, Drs. Kamaruzzaman, MM menegaskan pada saat ini, upaya penyelamatan lingkungan sudah mendesak untuk dilakukan. Untuk itu perlu adanya perubahan perilaku yang ramah lingkungan. Upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim perlu dilakukan secara konsisten dengan tujuan untuk meminimalisir dampak yang telah terjadi, mengantisipasi resiko sekaligus mengurangi efek dari perubahan dimaksud sehingga dapat menghemat biaya yang harus dikeluarkan akibat perubahan kondisi lingkungan yang terjadi.
"Mengingat Kabupaten Kubu Raya merupakan wilayah yang rawan akan terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan, untuk itu kita berharap pekan lingkungan hidup ini akan sangat memberi arti dan nilai penting dalam upaya pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan di Kubu Raya," ungkapnya.
Caranya, kata Kamaruzzaman, dapat dilakukan dengan mulai menanamkan kebiasaan gemar menanam pohon yang dapat menyerap karbondioksida di udara, membudayakan hidup bersih dengan membuang sampah pada tempatnya, mematikan alat-alat elektronik jika tidak sedang digunakan, serta hal-hal lain yang kiranya dapat mengurangi efek gas rumah kaca sehingga dapat memperlambat laju pemanasan global. "Dengan demikian, keseimbangan kepentingan lingkungan, sosial dan ekonomi dapat tercapai," katanya.
Pada rangkaian pekan lingkungan hidup tersebut, jajaran pemerintahan Kubu Raya juga melakukan penanaman pohon di belakang gedung utama kantor bupati sebagai langkah konkrit peduli dengan lingkungan hidup dan disertai penanaman pohon di tiap kecamatan dan tempat-tempat yang telah ditentukan. (adi)

Pemprov Tunggu Hasil Study Konsultan Aerocity

Pemprov Tunggu Hasil Study Konsultan Aerocity
Pontianak, BERKAT.
Terkait rencana Pemerintah Kabupaten Kubu Raya yang akan mengembangkan aerocity atau pengembangan kawasan kota yang berbasis airport, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kalbar, Drs. H. Fathan A. Rasyid, M. Ag mengatakan saat ini masih menunggu hasil study yang dilakukan oleh konsultan perencana aerocity.
"Perencanaan aerocity masih tahapan study yang dilakukan oleh pemerintah KKR dan konsultan yang dilihat dari potensi dan peluang yang mengacu pada rencana tata ruang, bangunan dan lingkungan (RTBL)" katanya.
Dari study tersebut, lanjutnya akan ada hasil, nantinya akan dibicarakan bersama pemerintah KKR, dengan mendidiskusikannya, sehingga memberikan pemikiran-pemikiran apa aerocity bisa jadi pengungkit pembangunan. Rencana aerocity sebagai suatu pemikiran antisipatif di wilayah Kalbar sangat strategis.
Menurut Fathan, pengembangan kota satelit pada lahan seluas 6.500 hektar tersebut sesuai dengan RPJMD 2008-2013. Dalam konsep kewilayahan pembangunan dibagi tiga, pertama konsep dalam kawasan pesisir dan kepulauan, kawasan perbatasan antar negara, kawasan antar provinsi serta kawasan tengah atau pedalaman.
Dari posisi dan topografi posisi Kubu Raya sangat strategis mengingat kabupaten ini memiliki jalur perdagangan atau bisinis (udara, darat, laut dan sungai). "Setelah study aerocity selesai, rencananya program tersebut akan disandingkan dengan Program Pontianak Metropolitan yang saat ini sedang finalisasi di Departemen PU," pungkas Fathan.

Desain Aerocity (bagian 3)

Investasi Mencapai Rp30 triliyun

Pontianak, BERKAT.
Untuk membangun kawasan kota satelit atau aerocity direncanakan menggunakan lahan sebelah barat kawasan bandara yang ada sekarang seluas 6.500 hektar yang sebagian besaar merupakan kawasan perkebunan yang kurang produktif.
Meski fibility study dari proyek ini belum ada, namun dapat diestimasikan dalam proses pembangunan bandara internasional dan kawasan lainnya dalam proyek tersebut di Kubu Raya akan melibatkan banyak tenaga kerja, yakni sekitar 1,5 juta pekerja yang merupakan akumulasi dari bidang hulu hingga hilir antara lain konsultan, perusahaan penyuplai, kontraktor, subkontraktor dan usaha pendukung.
Guna mengisi lowongan kerja ini nantinya, tenaga kerja lokal yang memenuhi standart menjadi prioritas utama. "Saat ini sedang dikaji bebera konsep social engenering dari proyek aerocity berkaitan dengan keterlibatan masyarakat lokal secara luas dan berkelanjutan," ungkap Sy. Usmardan lagi.
Usmardan, menegaskan untuk mewujudkan aerocity, pihak investor dan konsultan sudah menyatakan siap untuk mengucurkan investasi dengan jumlah tidak terbatas. "Jadi, jika anggaran yang dicanangkan untuk pengembangan tahap awal Aerocity sebesar Rp30 triliun, maka mereka akan siap mengucurkan dana tersebut, karena mereka benar-benar serius menggarap program ini," jelasnya.
Sementara itu, Kamaruzzaman merasa optimis bahwa program Aerocity akan berhasil. "Karena bagaimanapun juga jika KKR dan Kalbar ingin berkembang, maka satu-satunya akses untuk menangkap peluang Internasional, maka airportnya juga harus bertaraf Internasional," katanya di ruang kerjanya.
Untuk mewujudkan hal itu, tinggal bagaimana keputusan pemerintah Provinsi Kalbar. "Jika Kalbar ingin maju Gubernur harus tanggap dan respon," ungkap Sy. Usmulyani. (adi/selesai)

Desain Aerocity (bagian 2)

Kunci Persaingan Global Kalbar
Kubu Raya, BERKAT.
Dua kutub perkembangan yang mempengaruhi perkembangan kawasan aerocity atau Kota Satelit adalah kawasan bisnis jalan Ahmad Yani I di satu kutub (Kota Pontianak) dan Bandara Supadio (KKR) di kutub yang lain.
"Pada konsep Aerocity, bandara yang representatif (international standar) mutlak dan menjadi poin penting karena nantinya perpindahan moda transportasi dalam pergerakan barang (cargo) dan manusia di KKR khususnya dan Kalbar umumnya, akan terjadi jika konsep ini terwujud," kata Sy. Usmardan, ST, M. Art.
Desain bentuk kota dalam hubungannya dengan core kota dipengaruhi letak wilayah potensial pengembangan lainnya di KKR dan master plan Kalbar serta Rencana Umum Tata Perkotaan Nasional (Indonesia).
Pj. Bupati Kubu Raya, Drs. Kamaruzzaman, MM menegaskan konsep Aerocity telah dimasukkan dalam peta perencanaan wilayah pembangunan Kubu Raya. Sebab merupakan salah satu bagian dari pengembangan kawasan terpadu antara perluasan Airport dengan kawasan pembangunan sosial ekonomi. Nantinya di sekitar Airport akan dibangun pelabuhan internasional, terminal bus internasional, sarana sosial dan ekonomi lainnya seperti rumah sakit, mal, kompleks perkantoran, dan pasar. "Kita semakin memperkuat posisi bandara tersebut, sehingga jika selama ini bandara kita hanya menerima jalur penerbangan nasional, ke depan akan lebih dikembangkan sehingga dapat menerima pesawat domestik dari luar negeri," ungkapnya yang tidak bisa menghitung berapa PAD yang didapat dari kesuksesan pembangunan kota satelit tersebut.
Ke depan, Aerocity ini akan menjadi kota tersendiri yang benar-benar lengkap dan menjadi suatu pusat pertumbuhan atau kota masa depan yang sudah banyak dikembangkan di negara-negara maju, seperti Kuching, dan Singapura. "Kita berharap, jika seluruh tahapan administratifnya telah diselesaikan dan studi kelayakannya telah dibuat oleh perusahaan konsultan akan kita perdalam," katanya.
Rencananya akhir Juni ini pihaknya akan mengundang kembali konsultan tersebut untuk memantapkan kembali perencanaannya, mengingat pada bulan Juli/Agustus nanti APBD KKR akan disusun untuk tahun 2009. Setalah melakukan pertemuan tersebut, baru presentasi kepada Gubernur Kalbar agar program ini dapat segera berjalan.
"Saya juga sudah bertemu langsung dengan investornya, bahkan kuasa hukumnya untuk membahas program ini, pada tanggal 26 Desember 2007 lalu. Pertemuan kedua dan ketiga di ruang kerja saya. Investor ini bukan sembarangan investor karena mereka adalah investor bertaraf internasional yang memiliki kualifikasi, dan dari data profil company yang kita lihat mereka telah melakukan pembangunan Airport di Kuwait, Dubai dan yang lainnya," jelas Kamaruzzaman. (*/bersambung)

Desain Aerocity

Desain Aerocity (bagian 1)
Gerbang Kubu Raya Go Internasional
Kubu Raya, BERKAT.
Sebuah desain yang menekankan pada sebuah konsep kota masa depan, dimana kawasan bandara menjadi core kota berbasis integreted moda transportation, selain berfungsi sebagai core kota, Supadio juga berfungsi sebagai ancour dari perpindahan modal transportasi, baik dari darat, laut dan sungai.
Desain yang diprediksi mampu membawa kesejahteraan Kalimantan Barat pada umumnya dan Kubu Raya khususnya itu dimotori PT Ertrans, sebuah perusahaan konsultan berskala internasional dari Jepang di bawah pimpinan Mr. Isada yang bergerak di bidang transportasi berdomisili di Jakarta dan dimotori oleh ahli penerbangan, ekonomi dan sarjana sains transportasi, Sy. Usmulyani, Ah. Pnb, SE, SSiT juga didukung seorang Urban Design (ahli tata kawasan), Sy. Usmardan, ST, M. Art menilai konsep tersebut sangat tepat dan sangat relevan untuk diimplementasikan di Kabupaten Kubu Raya jika dilihat dari prosfektus ekonomi (bisnis) dan keadaan alam (posisi dan topografi).
Perspektif ekonomi (bisnis) dapat dijelaskan berdasarkan data penerbangan yang ada dalam 7 tahun terakhir (2001-2007), menunjukkan kecenderungan pasar jasa transportasi khusus penumpang dan cargo di Bandara Supadio mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Peningkatan rata-rata 7,4 persen pertahun untuk penumpang dan 6,5 persen pertahun untuk cargo.
Sedangkan dari keadaan alam (posisi dan topografi) dapat dijelaskan posisi Kubu Raya sangat strategis. "Kabupaten ini memiliki jalur perdagangan/bisinis (udara, darat, laut dan sungai) bagi wilayah Kalbar, Indonesia bahkan Asia Pasifik," ungkap Sy. Usmulyani di ruang kerjanya, Selasa (3/6) kemarin.
Manajer Safety PT Angkasa Pura II ini menjelaskan jalur penerbangan internasional yang melintasi Indonesia sekarang ini baik dari arah utara ke selatan maupun dari barat selalu melewati wilayah Kalbar. Hal ini tentunya menguntungkan pendapatan Kalbar dalam jangka pendek dan menjanjikan dalam jangka panjang jika dikembangkan.
Secara topografi KKR diuntungkan karena dilintasi oleh banyak sungai besar dan kecil yang saat ini masih menjadi urat nadi perdagangan Kalbar serta permukaan tanah relatif landai (jauh dari perbukitan).
"Hal yang paling penting adalah, bahwa pengembangan bandara Supadio sebagai core dari konsep Aerocity KKR ini sejalan dengan masterplan Provinsi Kalbar dan RAKP dari Departemen Perhubungan (PT Angkasa Pura II), dimana ditetapkan pengembangan Bandara Supadio nantinya menjadi bandara Internasional yang bisa didarati pesawat berbadan lebar," katanya.
Sementara itu,
Sy. Usmardan, ST, M. Art, ketika dihubungi via selulernya mengungkapkan, desain aerocity dikembangkan berdasarkan observasi dari predisposisi (kecenderungan) perkembangan dan potensi yang ada di Kabupaten Kubu Raya khususnya dan Kalbar pada umumnya. Kecenderungan tersebut dilihat pada 5-10 tahun terakhir adalah kawasan Ayani II hingga ke Bandar Udara Supadio. Hal ini terjadi dikarenakan pascapembangunan jalan Ayani II, terdapat dua kutub perkembangan yang mempengaruhi perkembangan kawasan tersebut. (*)

Tinjau Kawasan Terisolasi


Perahu yang ditumpangi Kamaruzzaman terpaksa didorong selama setengah jam, mengingat kondisi infrastruktur Dusun Loncet masih mengkhawatirkan. FOTO: NURHADI

Tinjau Kawasan Terisolasi
Pulangnya Diguyur Hujan Sepanjang Perjalanan


Laporan Nurhadi di Dusun Loncet Desa Teluk Bakung Kecamatan Sungai Ambawang
Sesampainya di pemukiman warga yang sebagian besar berada di punggung bukit Loncet, Panjabat Bupati Kubu Raya disambut langsung oleh warga setempat. Hujan yang cukup lebat saat memasuki kawasan perkampungan membuat acara adat harus ditunda beberapa menit.
Saat hujan reda, perjalanan dilanjutkan melintasi kawasan pepohonan yang besar dan jalan setapak, warga beserta rombongan penjabat bupati menuju tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat adat.
Saat berdialog dengan masyarakat, Kamaruzzaman menyampaikan sampai kapanpun jika tidak ada campur tangan orang ketiga untuk membangun desa, dalam artian mengarahkan pihak swasta berinvestasi di desa tersebut. Dusun Loncet tentu susah tersentuh oleh pembangunan desa. Mengingat dana yang dimiliki oleh pemerintah begitu terbatas.
"Dari tahun 1912 nenek moyang kami sudah menetap di sini. Tapi tidak satu orang pejabatpun yang mau mendatangi daerah kami. Mudah-mudahan apa yang diutarakan bapak Penjabat Bupati merupakan angin segar bagi kami," ungkap salah seorang warga yang merasa terharu atas kedatangan beliau.
Waktu berjalan, haripun semakin gelap, rombongan langsung berpamitan dengan masyarakat, kali ini tidak lagi menempuh jalan darat, namun menggunakan akses transportasi sungai.
Tak ubahnya kondisi akses jalan darat, satu-satunya jalur sungai yang selama ini diandalkan wargapun kondisinya begitu mengkhawatirkan. Mengingat sungai yang kecil, sekitar setengah jam, perahu kayu dengan kekuatan mesin pendorong yang digunakan tersebut harus didorong dengan berjalan mundur.
Tak lama, rintikan hujan pun turun. Kali ini sepanjang perjalanan selama tiga jam lebih rombongan yang bejumlah belasan orang tersebut harus menahan dingin.
Belum lagi rute yang dilalui melintasi kawasan hutan rimba dan tak berpenghuni, perjalanan tersebut dinikmati dengan berbagai pengalaman menarik yang susah dilupakan. (*)


Kondisi jalan di tengah hutan rimba menuju Dusun Loncet ditempuh oleh Panjabat Bupati Kubu Raya hanya dengan berjalan kaki sekitar 3 jam. FOTO: NURHADI


Jalan Kaki 3 Jam Menuju Desa Terisolasi


Laporan Nurhadi di Dusun Loncet Desa Teluk Bakung Kecamatan Sungai Ambawang

Sebelum Kabupaten Kubu Raya (KKR) dimekarkan dari kabupaten induk, sentuhan pembangunan merupakan angan yang selalu diimpikan masyarakat. Wajar, jika pemekaran digaungkan seluruh lapisan masyarakat dari bawah mendukung secara penuh.
Salah satunya di Dusun Loncet Desa Teluk Bakung Kecamatan Sungai Ambawang KKR yang tergolong sangat terisolir karena selama puluhan tahun setiap hari masyarakatnya tidak memiliki fasilitas transportasi yang tidak memadai. Untuk akses jalan daratnya, ditempuh dengan tiga jam berjalan kaki dan susah dilalui dengan kendaraan roda dua, kecuali bagi mereka yang begitu mahir mengendarai motor jenis trail. Jika tidak demikian, malah kita sendiri yang harus mendorong motor tersebut.
Bukan hanya itu, kondisi jalan yang dipenuhi dengan berbagai ukuran kayu yang tidak tertata dengan rapi, begitu pula dengan sisa tebangan yang tidak dirapikan membuat para pengguna jalan tersebut harus ekstra hati-hati.
Ada pengalaman menarik saat Pj Bupati, Drs. Kamaruzzaman, MM didampingi Kadis Kesehatan Kubu Raya, beserta reporter Harian BERKAT menempuh jalan tersebut. Setiap setengah jam perjalanan saat bertanya kepada masyarakat yang bekerja mancari kayu di kawasan tersebut, apa yang ditanyakan, jawabannya hampir sama.
"Masih berapa jauh pak menuju perkampungan ?," tanya drs. Kamaruzzaman, MM kepada warga yang sedang duduk di pondok kecil saat perjalanan sudah memasuki 60 menit pertama. "Masih empat kilometer lagi," jawab warga dengan ramah.
Setengah jam berikutnya, jawaban yang sama didengarkan lagi, padahal saat itu perjalanan sudah memasuki jam ke dua. Ada pula yang menyampaikan sekitar setengah jam lagi baru sampai di perkampungan yang akan dituju, meski di depan mata hanya hamparan pepohononan yang terlihat.
Meski beberapa kali mendapatkan jawaban yang serupa, Kamaruzzaman dan rombongan tetap melanjutkan perjalanan dengan semangat ingin melihat langsung bagaimana kondisi sebagian masyarakat yang ada di Kubu Raya. (bersambung/*)

Rabu, 07 Mei 2008

SMUN 1 Kuala Mandor B Kabupaten Induk Hanya Bangun Gedung


Kubu Raya, BERKAT.
Sebagai kabupaten termuda di Kalbar, sebagian besar fasilitas dunia pendidikan warisan kabupaten induk di Kabupaten Kubu Raya sangat mengkhawatirkan. Salah satunya SMAN 1 Kecamatan Kuala Mandor B Kabupaten Kubu Raya. Salah satu bangunan sekolah yang baru dibangun tersebut sama sekai tidak memiliki fasilitas pendukung selain gedung yang baru.
Meski tahun jaran 2007/2008 SMAN 1 Kuala Mandor B sudah menerima 23 murid baru angkatan pertama, namun dengan fasilitas bangunan gedung saja, Kepala SMAN 1 Kuala Mandor B, Jumadi, S. Pd tetap optimis memberikan pendidikan kepada masyarakat Kuala Mandor B.
"Untuk kursi dan mejanya, kita gunakan bekas dari SMAN 1 Sungai Pinyuh. Meski kondisinya rusak, sampai di sini kita perbaiki. Yang penting anak bisa belajar," ucap Jumadi.
Ia berharap, pihak pemerintah baik kabupaten induk atau Kubu Raya segera memperhatikan dunia pendidikan. "Kehadiran SMAN 1 di sini sangat membantu masyarakat, terutama bagi mereka ekonominya yang pas-pasan," ungkapnya. (adi)

Minggu, 04 Mei 2008

Beras Bulog Berkedok Pakan Ternak Diselundupkan ?



Pontianak, BERKAT.
Sebanyak 100 ton (2000 karung) beras Bulog dari Jakarta diduga diselundupkan ke Pontianak melalui Pelabuhan Dwikora Pontianak pada Kamis (31/1) kemarin pagi. Beras-beras milik CV SB atas nama TT tersebut diangkut menggunakan kapal barang dengan nama AN yang bersandar di dermaga 03.
Sekilas tampak di atas geladak kapal hanyalah karung-karung yang berisikan pakan ternak hewan ayam, namun ketika dilakukan pembongkaran oleh awak kapal, dibawahnya ternyata berisikan karung beras Bulog.
Pada karung beras yang lambang matahari berwarna merah tersebut bertuliskan beras Bulog dengan berat bersih 50 kg yang alamatnya Jalan Jenderal Gatot Subroto Nomor 49 Jakarta. Sedangkan karung untuk makanan ayam berlabelkan berwarna hijau itu bertuliskan pakan ternak ayam dengan ukuran 50 kg.
Menurut salah seorang buruh pelabuhan, beras yang dipikulnya berasal dari Jakarta. Ia tidak mengetahui siapa pemilik beras dan pakan ternak tersebut. "Saya tidak tahu asalnya," katanya disela melakukan aktivitas bongkar muat barang-barang tersebut.
Kontan saja, mendapatkan laporan adanya dugaan beras selundupan, Kapoltabes Pontianak, AKBP Drs. H. Awang Anwaruddin langsung saja memerintahkan anggotanya di KP3L AKP Iwan Setiawan untuk menahan beras tersebut sebelum diangkut ke gudang sang pemilik untuk dilakukan pemeriksaan. Sang pemilik CV. SB pun dipanggil untuk dimintai keterangan oleh pihak Poltabes Pontianak. "Setelah kami lihat dokumennya benar dan sesuai dengan jumlah isinya," kata Kapoltabes saat dikonfirmasi BERKAT via ponsel.
Disamping itu, Kapoltabes katakan pihaknya juga telah melakukan croschek ke Bulog dan Disperindag yang menyatakan pengiriman itu sesuai aturan berdasarkan surat edaran Bulog pusat tahun 2008. "Bahwa diperbolehkan dan dibenarkan untuk mengirim beras antar pulau," ungkap Kapoltabes.
Nada yang sama pun diucapkan Kepala Bulog Divreg Kalimantan Cabang Kalbar, H. Muchtar Sa'ad yang memperbolehkan semua orang untuk membeli beras Bulog darimana saja selagi masih berada di wilayah Indonesia kecuali beras impor dilarang.
"Beras impor harus ada beanya," katanya.
Dia juga tegaskan, jika beras tersebut masuk dalam gudang pedagang (Pedagang Antar Pulau-PAP,red) ternyata karung yang bertuliskan beras Bulog diganti dengan karung merek lain dengan tujuan untuk menaikan harga jual, hal itu dilarang. Jika dilakukan maka sanksinya yakni izin usahanya akan dicabut. "Karena beras murah milik masyarakat," tegasnya.
Namun demikian, dia akui bahwa untuk Kamis (31/1) kemarin belum ada jadwal masuknya beras Bulog ke Kalbar. "Baru masuk sekitar tiga hari lagi dari Jawa Timur," ungkapnya.
Direncanakan beras-beras tersebut akan dibawa ke salah satu gudang di kawasan Jalan Kom Yos Sudarso dan Pasar Kapuas Besar. (adi)

Kamis, 01 Mei 2008

Giliran Buaya yang Tewas




Kubu Raya, BERKAT.
Setelah salah seorang warga Desa Tanjung Saleh Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, Kalot Amin (60) tewas pada 23 April 2008 lalu menjadi korban kesekian kalinya akibat keganasan binatang buaya, Selasa (29/4), giliran buaya dewasa berukuran lima meter tewas di-'aler' (dipancing, red) oleh seorang pawang tak jauh dari lokasi dimana Kalot Amin diterkam.
Menurut Usman, pawang buaya yang menangkap buaya tersebut, butuh waktu dua hari untuk menangkap buaya itu. "Caranya kita aler dan diberi umban seekor bebek, kemudian digantungkan ke pohon nipah dan tidak lupa diberi pelampung agar ketika umpan tersebut dimakan buaya bisa ketahuan," katanya.
Semula Usman tidak menyangka buaya tersebut berhasil diburu, saat pemeriksaan rutin aler tersebut, tiba-tiba salah satu dari delapan aler yang dipasang tak jauh dari lokasi di mana buaya tersebut memangsa korbannya hilang. Pencarianpun dilakukan. Dan sekitar dua kilometer dari lokasi pemasangan aler tersebut Usman beserta 10 warga Dusun Sepok Keropok menemukan pelampung yang dicari. Ketika menarik pelampung tersebut perjuangan beratpun terjadi. Antara warga dan buaya saling menarik, beruntung buaya saat itu sedang terluka karena sudah menelan aler yang terbuat dari besi, sehingga tenaganya sedikit melemah.
Melihat buaya yang selalu meronta dan khawatir membayakan dirinya beserta warga lainnya, akhirnya Usman menghunuskan parangnya tepat di punggung buaya tersebut, sehingga buaya itu tidak berkutik.
"Ketika kami menarik tali aler tersebut buaya itu selalu meronta. Kalau buaya itu tidak dilukai, mungkin kami yang terluka," kata Usman sebelum membelah perut buaya tersebut di muara Dusun Sepok Keropok, Rabu (29/4) lalu.
Setelah dipastikan buaya tersebut tidak bernyawa lagi, dengan dua buah motor air kecil, buaya itu dibawa masuk ke perkampungan.
Menurut Ketua RT 20/RW 4, Desa Tanjung Saleh Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, Idris untuk mengundang seorang pawang, seluruh warganya secara swadaya mengumpulkan iuran.
"Kita pahami ketika seorang pawang menangkap buaya, ia juga meninggalkan anak dan istri. Karena kita membutuhkan keahliannya tidak hanya sekali," kata Idris.
Mengenai imbalan Rp1.000.000 bagi yang berhasil menangkap buaya, menurut Idris hal itu harus direalisasikan. ""Untuk sekali menangkap buaya saja dibutuhkan paling tidak Rp800.000. Belum lagi transportasi dan lainnya," kata Idris menjelaskan.
Mendengar betita ditangkapnya seekor buaya tersebut, warga dari desa tetangga berdatangan untuk melihat langsung.
Setelah itu, buaya tersebut dibelah dan langsung di buang ke laut. (adi)

Minggu, 27 April 2008

Pertama di Kalbar Coconut Biodiesel di Kubu Raya



Kubu Raya, BERKAT.
Sentra kelapa di Kabupaten Kubu Raya tepatnya di Desa Padang Tikar Kecamatan Batu Ampar dan Desa Kubu Kecamatan Kubu menjadi sasaran Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar untuk pembangunan pengolahan biodiesel. Sebuah gebrakan pembangunan di bidang perkebunan pada potensi komoditas kelapa merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan nilai tambah produk kelapa.
"Kita mencoba bagaimana memberikan nilai tambah bagi produk kelapa yang diorientasikan tidak hanya menghasilkan kopra, tetapi juga menghasilkan bahan baku untuk dijadikan biodiesel, yang kita sebut hasilnya adalah coconut biodiesel," ungkap Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Ir. H. Idwar Hanis kepada BERKAT di ruang kerjanya, usai salat Jumat (25/4) kemarin.
Meskipun saat ini masih dalam tahap uji coba, Idwar mengungkapkan mesin tersebut bisa melayani sekitar 1 ton kopra per hari setara dengan 5.000 kelapa per hari. "Artinya, dengan demikian bisa mengakomodir sekitar 625 hektar kebun kelapa per hari," jelasnya.
Strateginya, kata Idwar pertama bagaimana Dinas Perkebunan bisa membantu meningkatkan nilai tambah bagi para petani kelapa. "Kita harapkan program tersebut mampu memperbaiki pendapatan petani. Timbal baliknya, para petani mampu secara mandiri meningkatkan skala usaha tani. Apakah itu untuk peremajaan, rehabilitasi, perluasan dan lainnya," ungkap Idwar.
Untuk unit pengelolaan program tersebut selanjutnya Idwar berharap tentu ada satu lembaga yang ada di lapangan yang mengelola secara khusus. "Kita berharap adanya kerjasama kelompok tani atau gabungan kelompok tani yang memiliki kebun kelapa sebagai pemasok bahan baku dan mereka bisa mencari tenaga-tenaga profesional untuk mengolah pabrik tersebut," ungkapnya.
Manfaat lainnya yakni meningkatkan penghasilan para petani kelapa, hasil coconut biodiesel tersebut juga bisa membantu meringankan beban nelayan yang ada di sekitar wilayah tersebut. Sebab selama ini sebagian besar nelayan tidak lagi menggunakan solar sebagai bahan bakar, melainkan menggunakan minyak tanah yang dicampur dengan oli.
Gebrakan pembangunan perkebunan di Kalbar tersebut ternyata menarik perhatian Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur dan beberapa dinas perkebunan kabupaten, sehingga sejak Kamis (24/4) lalu, mereka melakukan studi banding terhadap pelaksanaan pembangunan perkebunan di Kalbar. (adi)

Karet Ikon Entaskan Kemiskinan


Pontianak, BERKAT.
Program pengembangan karet rakyat yang digencarkan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar telah ditetapkan sebagai ikon untuk mengentaskan kemiskinan di Kalbar. Hal itu sesuai dengan visi pembangunan yang ditetapkan Pemerintah Daerah Provinsi Kalbar di antaranya bagaimana mensejahterakan masyarakat. Sasarannya, tentu dalam hal ini bagian yang tidak terpisahkan adalah para petani karet itu sendiri.
"Kaitannya dengan program tersebut, Kita telah menetapkan tujuh langkah strategis dalam rangka mengentaskan kemiskinan bagi petani karet di Kalbar," kata Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar, Ir. H. Idwar Hanis di ruang kerjanya, Jumat (25/4).
Ia menjelaskan, strategi tersebut yakni memperbaiki jenis karet yang ditanam dengan jenis karet (klon) yang berproduksi tinggi. Dari jenis karet alam dengan klon yang sudah diteliti oleh pihak pusat penelitian karet baik di medan maupun di Palembang (Sumatra Selatan) yang disebut dengan klon generasi keempat (jenis PB 260 dan PR 261).
Klon tersebut bisa menghasilkan antara 1.5-2 ton per hektar dan dengan masa sadap bisa lebih cepat. Kalau karet alam 6 tahun baru bisa disadap, sedangkan klon generasi keempat tersebut dengan masa 3,5 tahun saja sudah bisa disadap. Untuk daya tahannya sama dengan karet lokal 25-30 tahun.
"Kita ketahui juga bahwa para petani di Kalbar saat ini memiliki minat yang cukup tinggi untuk meningkatkan perkebunan karet, tapi ketersediaan bibit begitu terbatas. Untuk itu, program yang kita rancang tersebut merupakan jalan keluar kesulitan tersebut," kata Idwar lagi.
Dari penanaman bibit unggul tersebut diarahkan untuk pembangunan kebun-kebun tunas yang akan digunakan untuk memperoleh bibit unggul. Kebun-kebun itu nantinya menghasilkan mata tunas dari klon-klon tersebut yang di tanam dari sentra produksi karet.
Kemudian mata tunas tersebut dipanen untuk diokulasikan (ditempelkan) dengan bibit yang mereka siapkan di lapangan. "Tentu dengan teknik yang sudah kita arahkan," katanya.
Maksudnya, kalau petani saat ini sangat antusias dengan bibit karet unggul, tetapi jumlahnya sangat terbatas. Ke depan mereka akan kita libatkan secara langsung, baik dengan pelatihan dan lainnya. (adi)

Kubu Raya Kembangkan Peternakan Terpadu

Kubu Raya, BERKAT.
Meski kabupaten termuda di Kalimantan Barat, saat ini begitu banyak potensi yang akan dikembangkan di Kubu Raya. Salah satunya Dinas Kehewanan dan Peternakan Provinsi Kalbar yang akan mengembangkan peternakan terpadu.
"Contohnya peternakan sapi yang akan dipadukan dengan jagung, padi dan nenas. Limbahnya pertanian tersebut akan dimanfaatkan untuk ternak, sedangkan kotoran ternak untuk pupuk organik," kata Kepala Dinas Kehewanan dan Peternakan Provinsi Kalbar, drh. Abdul Manaf Mustafa, kepada BERKAT usai membicarakan hal itu kepada Penjabat Bupati Kubu Raya, awal pekan lalu.
Saat ini, kata Abdul Manaf, pihaknya sedang menginventarisasi kelompok-kelompok mana saja yang menurutnya bisa dibina untuk pengembangan peternakan terpadu tersebut. Sektor unggas seperti ayam potong juga menjadi salah satu prioritas.
"Untuk stok Kota Pontianak, selama ini sebagian besarnya didatangkan dari Kabupaten Kubu Raya. Potensi seperti ini yang harus kita dukung," tegasnya.
Ia mengakui potensi di Kubu Raya sangat besar dan berpotensi untuk dikembangkan, apalagi berkaitan dengan KTM. Meski begitu, pengembangan peternakan terpadu tersebut tetap saja memiliki kendala. Salah satunya, kata Abdul Manaf, keterbatasan SDM, seperti tenaga dokter hewan dan sarjana peternakan.
"Saya menyarankan Pj Bupati Kubu Raya seperti yang saja sarankan di Kabupaten Kayong Utara, yakni dengan cara mengontrak tenaga ahli tersebut," katanya.
Apalagi Kubu Raya, merupakan memiliki pintu masuk yang vital, seperti Bandara supadio dan lainnya.
"Saya menyarankan kepada para bupati, pertama mengirimkan putra daerahnya ke luar daerah untuk disekolahkan. Kedua, sementara masih menunggu tenaga tersebut, kontrak tenaga saja. Kalau ada kesempatan formasi pegawai. Masukkan pegawai," sarannya.
Menurutnya, untuk luas wilayah KKR, paling sedikit butuh 5 orang. termasuk menyangkut aspek laboratorium dan kebijakan serta yang terjun langsung ke lapangan.
"Dengan dipenuhinya kebutuhan SDM tersebut, program pengembangan peternakan terpadu di Kubu Raya tentu akan mengalami peningkatan yang signifikan. Tinggal dukungan dari berbagai pihak saja," ujarnya. (adi)

Predator Pemangsa Manusia Berkeliaran di Kubu Raya


Kubu Raya, BERKAT.
Warga Desa Tanjung Saleh Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya kembali dihebohkan keganasan binatang buaya. Setelah awal Februari 2008 lalu menewaskan Nawir (38). Rabu (23/4) kemarin sekitar pukul 11.00 WIB siang bolong, giliran Kalot Amin (60) diterkam buaya saat mencari udang dengan alat 'rompong' (alat tradisional penangkap udang, red) di perairan Sepok Keropok Desa Tanjung Saleh.Menurut keterangan saksi mata, Hamid (45) yang saat kejadian bersama korban mencari udang, tidka ada tanda-tanda keberadaan buaya tersebut di sekitar tempat kejadian."Ala Med. Saye dengar Pak Kalot tibe-tibe memanggil. Begitu saya lihat, ternyata Pak Kalot sudah diseret buaya," kata Hamid.Padahal, kata Hamid, kedalaman air saat itu hanya ukuran pinggang orang dewasa. Saat rekannya diseret buaya, Hamid pun langsung mengambil sampan dan menghampiri temannya yang masih belum terlepas dari gigitan buaya. Begitu ia hendak memukul buaya tersebut dengan pancang (kayu) rompong, gigitannya langsung dilepas. "Saye nengok buaya tu melepaskan gigitannye, Pak Kalot pon langsung saye angkat ke sampan," cetita Hamid lagi.Akibat kejadian tersebut, Hamid masih trauma dan belum berani melaut mencari udang. Begitu pula dengan nelayan lainnya. Melihat kejadian tersebut sudah seringkali terjadi, sebagian besar nelayan mengurungkan niatnya melaut. Meski korban sempat dibawa ke Puskesmas Pembantu yang ada di desa tersebut. Namun dalam perjalanan korban yang meninggalkan dua istri dan enam orang anak inipun menghembuskan nafas terakhirnya.Istri korban, Lehot (35) tidak kuasa menahan isak tangis. Kejadian mendadak tersebut kontan membuatnya merasa kehilangan.Menurut Ketua RT 20/RW 4, Desa Tanjung Saleh Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, Idris kejadian serupa sudah yang ke tujuh kalinya. Beberapa waktu lalu kedatangan Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Dinas Kehutanan Kalbar ke sini tidak membawa hasil."Mereka (KSDA, red) ketakutan dengan buaya-buaya tersebut. Karena senjata tidak memuaskan, mereka tidak berani melepas tembakan," kata Idris.Ia memohon kepada instansi terkait untuk segera menanggapi permasalah keganasan buaya tersebut. "Jiwa kami di sini terancam," tegasnya. Anggota DPRD Provinsi Kalbar, H. Sy. Abdullah Al-Qadrie, SH, MH dihubungi via seluler meminta permasalahan tersebut segera dikoordinasikan. "Jika memang KSDA tidak sanggup, segera carikan solusinya," kata legislator yang lahir di desa Tanjung Saleh ini. Belum sempat Kalot Amin disemayamkan, sekitar pukul 15.00 WIB, di Pematang Makmur, Desa Punggur Besar Kecamatan Sungai Kakap tidak seberapa jauh dari lokasi kejadian, seekor buaya berukuran 5 meter ditemukan warga.Menurut M. Yasin, buaya yang ditemukannya itu sudah tidak bernyawa dan diperkirakan sudah mati selama empat hari. Setelah membelah tubuh buaya tersebut, di dalam perutnya ditemukan sebuah mata pancing yang digunakan pawang buaya untuk menangkap buaya tersebut dan beberapa helai rambut manusia yang diduga korban sebelumnya."Untuk di Punggur Besar saja sudah dua kali terjadi penyerangan buaya. tahun lalu, seorang warga ditemukan tanpa kepala. Sedangkan 15 hari lalu, warga lainnya juga tewas dengan kedua tangan putus dan luka parah," kata Effendi, Kades Punggur Besar yang saat itu langsung meninjau penemuan buaya tersebut. Effendi berharap, harus ada upaya menangani keganasan buaya tersebut. "Kalau pemerintah tidak mampu, kita gunakan pawang saja. Biar mereka yang memancing buaya tersebut. Ini sudah menyangkut nyawa manusia," tegasnya. (adi)

Senin, 14 April 2008

Ruang rindu buat my family yang jauh

Foto-foto ini ku upload khusus buat my brother yang ada di negeri jiran. Semoga wajah mereka mampu meneduhkan rasa rindu mu............



Sabtu, 12 April 2008

nyang oful




Display My Family

Bila orang yang terdekat tak ada di hati kita, maka sebaiknya bersiap-siaplah mengalami hal yang terburuk yang jarang terjadi di dunia.....






Jumat, 11 April 2008

Kamis, 10 April 2008

Jangan Setengah Hati Berantas IL

Setelah kedatangan Bapak Kapolri ke Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat beberapa waktu lalu, sejumlah media massa baik lokal maupun tingkat nasional semuanya mengangkat kebobrokan pembalakan liar yang telah terjadi puluhan tahun.
Bahkan, di beberapa media elektronik nasional tidak segan-segan menayangkan pengakuan mantan pelaku Illegal Loging untuk membongkar dengan siapa saja mereka pernah bekerja sama.
Alhasil, dari kebanyakan yang mengakui aksi pembabatan kekayaan hutan Kalbar tersebut tidak sedikit yang mendeskreditkan oknum-oknum yang memback-up mereka dalam rangka memuluskan aksinya.
Untuk itu sebagai masyarakat yang merasa peduli dengan kelestarian alam yang ada di Kalbar, saya meminta kepada penegak hukum hendaknya memiliki komitmen memberantas illegal loging yang ada.

Senin, 07 April 2008

Nikmatnya Manisan Buah Kelapa



Kubu Raya, BERKAT.
Ada-ada saja kreativitas masyarakat pesisir Kabupaten Kubu Raya yang memanfaatkan ketersediaan buah-buahan yang melimpah di alam. Seperti manisan buah kelapa yang memiliki rasa yang khas dan cukup enak untuk disajikan sebagai cemilan.
Bahkan pada hari raya, manisan buah kelapa menjadi salah satu sajian untuk tamu yang bertandang ke rumah.
Pohon kelapa merupakan sebuah pohon yang memiliki berbagai manfaat, tidak heran jika buah kelapa yang biasa dijadikan bahan dasar minyak goreng dan santan masakahn tersebut dioleh menjadi makanan ringan yang bisa menambah penghasilan masyarakat pesisir Kabupaten Kubu Raya.
Seperti di Desa Padang Tikar Kecamatan Batu Ampar yang sudah turun temurun membuat manisan dari buah kelapa.
Sekarang, masayakat di desa yang menjadi pusat pemerintahan kecamatan tersebut berfikir lebih maju. Meski dengan cara yang masih tradisional, mereka mencoba memperkenalkan kepada dunia luar makanan tradisional yang selama ini hanya mereka konsumsi sendiri.
Hasilnya, meski pengemasan secara sederhana, pada pameran MTQ ke 25 tingkat Kabupaten Pontianak di Kecamatan Sungai Kakap beberapa waktu lalu, manisan kelapa terbilang laris dan disukai oleh pembeli.
Salah seorang pengelola pameran asal Kecamatan Batu Ampar, Jamalia menjelaskan untuk pembuatan manisan buah kelapa tidak membutuhkan bahan-bahan yang terlalu mahal. Artinya, dengan modal yang relatif kecil, pengelolaan manisan buah kelapa bisa dilakukan.
"Biasanya untuk satu kotaknya manisan buah kelapa dijual seharga Rp 2.500. Namun hingga saat ini pemasaran produk tersebut sangat terbatas, karena belum dipasarkan secara maksimal," katanya. (adi)

Kerajinan Lidi Kelapa


Kubu Raya, BERKAT.
Pohon kelapa merupakan salah satu pohon multi guna. Dari buah hingga batangnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Seperti sabut kelapa yang dijadikan keset kaki.
Begitu pula dengan lidi kelapa. Biasanya digunakan sebagian besar masyarakat yang ada di pedesaan sebagai penyapu yang tidak terlalu memiliki harga jual yang tinggi, namun kali ini dengan sentuhan kreativitas tangan ibu-ibu PKK Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya, lidi kelapa tersebut dianyam menjadi tatakan berbagai peralatan masak.
Hasilnya, dengan modal yang relatif kecil, bisa menghasilan keuntungan yang lumayan besar. Karena perbuah tatakan lidi kelapa tersebut dijual dengan harga berkisar Rp 5.000-Rp 10.000.
Menurut Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Batu Ampar, Ngadini, Kecamatan Batu Ampar memiliki potensi pohon kelapa yang melimpah.
"Jadi, apa salahnya jika potensi yang ada dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna," katanya di sela-sela pameran MTQ ke 25 Kabupaten Pontianak di Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, akhir pekan lalu.
Namun, saat ini, menurut Ngadini, proses pemasaran merupakan kendala harus dihadapi oleh para pengrajin tatakan lidi kelapa tersebut. "Kalau pemerintah bisa mendorong masalah pemasaran, kita siap memproduksi dalam jumlah yang besar. Hasilnya, tentu penghasilan masyarakat, terutama kaum ibu rumah tangga bisa meningkat," jelasnya. (adi)

Batu Ampar Kaya Makanan Tradisional

Kubu Raya, BERKAT.
Kecamatan Batu Ampar merupakan salah satu dari 9 kecamatan yang ada di Kabupaten Kubu Raya. Di kecamatan sebagian besar kawasan perairan ini memiliki potensi berbagai makanan tradisional yang dikelola dan diberdayakan oleh masyarakatnya.
Seperti roti kaf dari tepung tapioka, terasi udang, pisang salai, teri mie, keripik pisang, sirup dari jeruk nipis, dodol kelapa, manisan kelapa, dan lainnya.
Makanan-makanan tradisonal tersebut, sejak beberapa tahun lalu dikelola oleh masing-masing kelompok kerja PKK Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya yang dipusatkan di Desa Padang Tikar.
Pengemasan makanan tradisional tersebut hanya mengandalkan kreativitas anggota PKK, sehingga memiliki kualitas tampilan apa adanya. Namun, masalah rasa, makanan tradisional tersebut cukup menggoda lidah bagi siapa saja yang mencoba mencicipinya. Dan cara pengolahan yang dilakukanpun masih menggunakan cara yang tradisional dan dalam jumlah yang masih terbatas.
Seperti pisang salai yang dibuat dengan cara pengasapan. Tanpa pemanis dan pewarna buatan dan rasanya tak kalah manis dengan gula, serta kaya akan serat alami yang baik untuk pencernaan.
Menurut salah seorang anggota Tim Penggerak PKK Kecamatan Batu Ampar, Dra. Jamalia, belum adanya trainingan atau arahan merupakan sebab utama pengemasan makanan tradisional tersebut dilakukan secara sederhana.
"Pada dasarnya kami ingin memproduksi makanan tradisional tersebut agar bisa menembus pasaran luas. Tapi berbagai kendala termasuk minimnya dukungan pemerintah membuat kami mengelola secara swadaya," katanya.
Selama ini, makanan tradisional tersebut hanya dipasarkan di sekitar wilayah Kecamatan Batu Ampar. Bahkan, tidak jarang ketika orang mengunjungi Kecamatan Batu Ampar, makanan tradisional tersebut menjadi buah tangan yang khas untuk dibawa pulang. (adi)

Jumat, 04 April 2008

Pinang Kering, Komoditas Unggulan Tak Kenal Musim Panen



Sungai Kakap, BERKAT.
Membicarakan buah pinang kering, serasa tak habis-habisnya memmbincangkan tentang sebuah manfaat tumbuhan yang dahulunya hanya digunakan oleh orang tua di perkampungan sebagai pelengkap makanan sirih. Uniknya, komoditas unggulan yang belum dikonsentrasikan oleh pemerintah untuk pengembangannya ini tidak memiliki musim panen seperti beberapa buah lainnya. Artinya setiap satu minggu sekali buah pinang selalu dipanen dan dikeringkan kemudian dijual.
Di Desa Punggur Besar Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, sebagian besar masyarakatnya memanfaatkan buah pinang. Padahal menurut salah petani pinang, warga Parit Sarim Desa Punggur Besar Kecamatan Sungai Kakap, Ahmad Adan (46) pada era tahun 1990-an, buah pinang sama sekali tidak menghasilkan, namun beberapa tahun belakangan sejak permintaan buah pinang meningkat masyarakatpun berlomba-lomba menanam pinang.
"Kalau saya sudah sebelas tahun mulai menanam pohon pinang. Hasilnya saya bisa panen sebanyak 500 kilogram perminggu sekali," ujar Adan yang memiliki kebun pohon pinang hampir empat hektar ini.
Meski harga pinang kering saat ini berkisar Rp 4.000 perkilogramnya, masyarakat tetap bersemangat mengeringkan buah yang dijadikan bahan pewarna untuk perusahaan tekstil ini. Tidak jarang di setiap halaman rumah warga Desa Punggur Besar terhampar buah pinang berbagai rupa, ada yang masih memiliki kulit, ada juga yang sudah dikupas.
Namun, hingga saat ini sorotan dinas terkait masih belum maksimal melakukan pembinaan terhadap masyarakat yang menjadikan komoditas unggulan ini sebagai penghasilan sampingan, padahal jika potensi ini dikembangkan, bukan hal yang mustahil dengan kesuburan lahan yang ada Kalbar bisa menjadi pengekspor pinang bagi dunia tekstil. (adi)

Wisata Ziarah di Makam Pendiri Kerajaan Kubu

Kubu Raya, BERKAT.
Kecamatan Kubu merupakan satu-satunya kecamatan yang memiliki keunikan tersendiri di Kabupaten Kubu Raya. Di kecamatan ini sebagaimana tercatat dalam sejarah pernah berdiri sebuah Kerajaan Kubu. Dan hingga saat ini makan seorang pendirinya, Sy. Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus yang juga menjadi raja masih tetap terjaga dan terawat sebagai salah satu potensi wisata ziarah yang ada di kabupaten termuda di Kalbar ini.
Komplek pemakaman keluarga kerajaan tersebut, memiliki nuansa khas keraton. Selain itu pada sisi kanan dan kiri makam Sy. Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus terdapat dua buah meriam yang seudah berumur ratusan tahun.
Sy. Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus yang tercatat lahir pada hari Kamis, 17 Ramadhan 1144 penanggalan hijriah dan wafat pada hari Ahad (Minggu, red) 12 Dzulqaedah 1209 Hijriah.
Tidak hanya Disamping makam Sy. Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus yang berada di komplek makam tersebut, Raja Kerajaan Ambawang, Sy. Alwi bin Sy. Idrus Al-Idrus juga berada di samping makam Sy. Idrus Abdurrahman Al-Idrus.
Menurut Camat Kubu, Effendi, SH, potensi wisata ziarah tersebut seharusnya didukung dengan pembangunan infrastruktur di sekitar wilayah tersebut. "Karena selama ini infrastruktur menuju komplek makam Raja Kubu sangat mengkhawatirkan," katanya. (adi)

Kembangkan Wisata Sungai Di Kawasan Perairan Kubu Raya

Kubu Raya, BERKAT.
Kabupaten Kubu Raya yang memiliki luas wilayah 6.985,20 kilometer persegi sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan perairan. Potensi tersebut merupakan sebuah peluang bagi kabupaten yang didukung 9 kecamatan ini untuk dikembangkan wisata sungai pada kawasan tersebut. Seperti hutan bakau yang ada di Kecamatan Rasau Jaya, Kubu, Batu Ampar, Terentang dan lainnya yang memiliki keindahan tersendiri bila kita menyusurinya dengan angkutan air. Bahkan di kawasan tersebut dari dulu hingga sekarang menjadi sentral bagi nalayan tradisional untuk mencari nafkah.
Tidak hanya keindahan kawasan hutan bakau yang dijadikan aset untuk potensi wisata. Di kawasan tersebut juga bisa disediakan fasilitas memancing yang disediakan untuk pengunjung lokal. "Karena saat ini di kawasan tersebut masih banyak terdapat hewan-hewan air yang menjadi bahan dasar sea food.
Apalagi menjelang senja saat menghabiskan waktu menyisiri sepanjang deretan hutan bakau yang memiliki akar unik dan indah. Belum lagi kala matahari terbenam, sejumlah pasukan burung di sela-sela menguningnya cahaya matahari seolah menjadi perpaduan pemandangan yang mampu memberikan kepuasan saat menjadi saksi keindahan alam tersebut.
Menurut Ketua Lembaga Pemantau Pembangunan Daerah (LPPD), Drs. Dede Junaidi, pembangunan wisata perairan tersebut sebaiknya dipusatkan di Kecamatan Rasau Jaya. Karena selama ini Rasau Jaya merupakan gerbang bagi kecamatan lain untuk menuju pusat pemerintahan Kabupaten Kubu Raya.
"Fasilitas dermaga yang sudah ada di Rasau Jaya tinggal ditingkatkan. Dampaknya, perekonomian masyarakat di situ diharapkan berkembang tentu PAD pun akan meningkat," katanya.
Konsepnya, kata Dede seperti Negara Thailand yang serius menata kawasan sungainya menjadi potensi wisata. "Jika Kubu Raya bisa demikian, tentu kabupaten termuda di Kalbar ini bisa menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Kalbar," ungkapnya. (adi)

Kamis, 03 April 2008

Kelebihan Taman Nasional Kalbar



Pontianak, BERKAT.
Dari 50 Taman Nasional (TN) yang dimiliki Indonesia, empat di antaranya berada di Kalimantan Barat, yakni TN Betung Kerihun (800.000 hektar), TN Danau Sentarum (132.000 hektar) yang keduanya terletak di Kapuas Hulu, TN Bukit Baka Bukit Raya (181.090 hektar) yang terletak di dua daerah yaitu Kabupaten Sintang dan Melawi serta TN Gunung Palung (90.000 hektar) terletak di Kabupaten Kayong Utara.
Dari keempat taman nasional tersebut, masing-masing memiliki kelebihan tersendiri. Seperti TN Betung Kerihun yang merupakan hutan hujan tropis oriental yang berada tepat di jantung Kalimantan atau termasuk dalam jajaran pegunungan muller. Di daerah ini juga diperkirakan masih memiliki sekitar 1.030 ekor populasi orang utan (pongo pygmaeus).
Begitu pula dengan TN Bukit Baka Bukit Raya. Secara administrasi kawasan ini memang masuk dalam dua wilayah (Provinsi Kalbar dan Kalteng). Habitat berbagai jenis satwa serta tumbuhan langka dan endemik banyak terdapat di kawasan ini. Seperti barbourua kalimantanensis, spesies katak yang sudah dalam kategori kritis.
Sama halnya dengan TN Danau Sentarum yang berjarak sekitar 700 kilometer dari muara Sungai Kapuas (Pontianak) ini merupakan Ramsar Site kedua di Indonesia dan merupakan hutan rawa tergenang terluas di Kalimantan. Di danau ini habitat 147 jenis mamalia, 310 jenis burung, 226 jenis ikan dan tumbuhan endemik Kalimantan masih terdapat dan dilestarikan.
Keistimewaan TN Nasional Gunung Palung dari taman nasional lainnya adalah kawasan ini merupakan satu-satunya taman nasional di Indonesia yang memiliki tipe ekosistem terlengkap dan merupakan laboratorium ekosistem bagi hutan hujan tropika Kalimantan.
Dari keseluruhan taman nasional tersebut selain sebagai kawasan lindung yang dijaga oleh pemerintah, kawasan tersebut juga berpotensi sebagai tempat wisata, penelitian, edukasi sumber air bersih, irigasi dan lainnya. (adi-diambil dari berbagai sumber)

Lentera Penerang Bagi Arwah Leluhur



Singkawang, BERKAT.
Pawai lampion merupakan salah satu rangkaian acara untuk memeriahkan perayaan Cap Go Meh di Kota Singkawang.
Perayaan yang dikemas cukup apik ini mampu menarik para pengunjung, meski tak seramai pengunjung Cap Go Meh, pawai lampion juga mampu memberi kesan warna-warni pariwisata Kota Singkawang.
Lampion atau lentera yang dihias dengan berbagai ukuran tersebut diarak keliling kota menggunakan mobil hias yang khas dengan nuansa etnis Tionghwa. Tidak hanya itu, puluhan naga yang bercahaya juga memeriahkan arak-arakan malam hari tersebut. Begitu juga dengan para tatung yang akan beraksi pada perayaan Cap Go Meh beserta dua belas shio penanggalan imlek juga turun ke jalan memeriahkan pawai lampion. Bahkan, miniatur klentengpun juga menyemarakkan pawai lampion yang diperlombakan oleh Pemerintah Kota Singkawang tersebut.
Secara filosofis, menurut kepercayaan warga Tionghwa di Kota Singkawang, pawai lampion memiliki arti sebagai jalan terang bagi arwah para leluhur menuju ke surga.
Meskipun hujan mengguyur Kota Amoy itu, warga tetap saja memadati lokasi kegiatan dan sepanjang rute yang dilewati arak-arakan tersebut. Selain berbagai atraksi memeriahkan pawai lampion sepanjang belasan kilometer ini, Walikota Singkawang, Hasan Karman, SH, MM dan Wakil Walikota Singkawang, Drs. Edy Yakob, M. Si juga turun langsung.
Akibatnya, beberapa kawasan jalan menjadi macet total. Seperti Jalan Diponegoro, banyak kendaraan yang terjebak kemacetan, meski begitu mereka memanfaatkan kondisi tersebut untuk menyaksikan arak-arakan lampion yang lewat.
Walikota merasa yakin perayaan Cap Go Meh mampu menarik wisatawan baik domestik maupun manca negara. "Ini merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)," ujarnya singkat. (adi)

Memborong Barang yang Diberkati Dewa



Singkawang, BERKAT.
Setelah melaksanakan arak-arakan tatung, menjelang sore atau sekitar pukul 14.00 WIB, di sebuah altar yang sudah ditentukan oleh panitia pelaksana digelar pasar lelang yang menjual berbagai jenis barang yang berhubungan dengan Cap Go Meh.
Ada berbagai makanan, tebu, babi dan lainnya yang kesemua barang tersebut dipercaya dan diyakini telah diberkati oleh para dewa.
Tidak hanya warga sekitar, para pengunjung yang datang dari luar daerah bahkan luar negeripun tidak sayang merogoh dompetnya untuk membeli barang-barang yang dianggap menarik bagi mereka.
Konon, menurut kepercayaan etnis Tionghwa, membeli barang tersebut diyakini dapat memperoleh keuntungan dalam berdagang maupun keselamatan dalam kehidupan. Bahkan antusias masyarakat begitu terlihat ketika harga sudah mulai dibuka, tak sedikit orang yang mengacungkan tangan agar bisa menawar barang tersebut.
Sebatang tebu misalnya, ketika sudah diberkati harga perbatangnya bisa mencapai Rp 10.000.000. Kalau belum diberkati, biasanya harga di pasar tebu tersebut hanya berkisar sekitar Rp 20.000-Rp 30.000.
"Tebu berarti sebagai pelaris bagi siapa yang berdagang," ujar salah seorang pembeli, Chung Hyat Sun yang sudah memegang dua batang tebu.
Dikatakannya, tebu tersebut akan diikat di depan tokonya yang terletak persis si pusat Kota Singkawang.
Menjelang terbenam matahari, acara lelang pun berakhir, biasanya pihak penyelenggara bisa memperoleh keuntungan ratusan juta rupiah dari hasil penjualan tersebut. (adi)

Cap Go Meh Even Wisata Kalbar

Singkawang, BERKAT.
Perayaan Cap Go Meh yang dilaksanakan setiap tanggal 15 penanggalan imlek merupakan puncak perayaan tahun baru imlek. Di Kalbar perayaan tersebut kini dipusatkan di Kota Singkawang.
Sebagai kota tujuan wisata, Kota Singkawang yang memiliki luas wilayah 56.542 hektar ini tidak hanya memiliki potensi wisata adat budaya saja. Kota ini juga terletak diantara laut, muara, gunung dan sungai.
Potensi ini juga didukung oleh Pemerintah Kota Singkawang, seperti yang diungkapkan Walikota Singkawang, Hasan Karman, SH, MM bahwa perayaan Cap Go Meh harus dilaksanakan setiap tahun dan dirayakan dengan cara yang berbeda dan meriah.
Melihat peluang yang cukup besar tersebut, Pemkot Singkawang tidak segan-segan mengagendakan tradisi itu sebagai agenda wisata tahunan.
Dampaknya, sekitar dua minggu menjelang perayaan Cap Go Meh, seluruh hotel dan penginapan di Kota Amoy tersebut sudah dipenuhi dengan pesanan para tamunya. Apalagi bagi orang yang ingin memesan kamar sehari atau dua hari menjelang Cap Go Meh, banyak mereka yang tidak bisa mendapatkan fasilitas tersebut. Meskipun mereka harus membayar mahal.
Satu sisi, perayaan yang mempertontonkan atraksi tatung yang sepktakuler tersebut, seharusnya perlu dievaluasi. Ramainya pengunjung yang datang, bahkan melebihi jumlah penduduk Kota Singkawang tidak diimbangi dengan pelayanan di rumah makan atau restoran yang memuaskan, sehingga banyak para pengunjung makan bersama rombongan ke daerah lainnya. Untuk itu ke depan perlu kiranya, segala bidang perlu dipersiapkan. (adi)

Singkawang, Pusat Perayaan Cap Go Meh



Pontianak, BERKAT.
Di Kalimantan Barat pusat perayaan Cap Goh Meh dipusatkan di Kota Singkawang dan biasanya ditandai dengan arak-arakan para Tatung menuju vihara atau klenteng. Perayaan ini dipercaya sudah dilaksanakan turun temurun sejak 200 tahun yang lalu.
Dengan berbagai atraksi tatungnya yang berasal dari berbagai vihara yang tersebar di seluruh Singkawang.
Biasanya, dalam satu klenteng kadang terdiri lebih dari 1 orang Tatung. Pagi hari di hari ke 15 perayaan tahun baru imlek ini, para Tatung akan berkumpul untuk melakukan sembahyang kepada Langit di altar yang sudah disiapkan. Perjalanan para Tatung di tandu dengan menggunakan tandu yang beralaskan pedang tajam atau paku tajam, sambil memamerkan kekebalan tubuhnya. Ada juga yang naik tangga pedang, biasanya terdiri dari 36 atau 72 pundak/tangga.
Semakin bisa naik ke atas, artinya semakin kuat juga ilmu Tatung tersebut. Kegiatan ini telah mulai dikembangkan sebagai objek pariwisata untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Tak heran jika bertepatan dengan perayaan Cap Go meh, di Kota Singkawang terlihat padat oleh pengunjung yang datang dari berbagai penjuru daerah di Kalbar.
Potensi inilah yang menjadikan Kota Singkawang menjadi salah satu tujuan wisata di Kalbar.
Konon, roh-roh yang dipanggil untuk dirasukkan ke dalam Tatung diyakini merupakan para tokoh pahlawan dalam legenda Tiongkok, seperti panglima perang, hakim, sastrawan, pangeran dan lainnya.
Usai perayaan Cap Go Meh, biasanya masyarakat Singkawang langsung melakukan lelang besar-besaran pernak pernik yang digunakan oleh tatung, menurut kepercayaan masyarakat setempat, barang-barang tersebut bisa membawa hoki, apalagi digunakan untuk berdagang. (adi)

Selasa, 01 April 2008

Manfaat Arang Mangrove untuk Ekspor

Kubu Raya, BERKAT.
Hutan mangrove selain menjadi kawasan wisata saat ini sudah dimanfaatkan dan diolah menjadi bahan dasar arang untuk kebutuhan ekspor yang digunakan untuk berbagai macam oleh negara maju seperti Jepang dan China.
Hutan mangrove yang tumbuh di muara sungai dan daerah pasang surut atau tepi laut ini bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut.
Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen.
Kabupaten Kubu Raya yang memiliki kawasan perairan mencapai 67 persen sebagian besar lahannya ditumbuhi pohon yang pada umumnya mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor).
General Manager PT Bina Ovivipari Semesta (BIOS), Ateng Surya Sanjaya, menyebutkan produksi arang dari tanaman mangrove bisa mencapai 180.000 matrik ton per tahun dari lahan yang sudah diijinkan seluas 10.400 hektar di Kabupaten Kubu Raya.
"Tapi yang efektif kita gunakan untuk keperluan produksi hanya 6.000 hektar saja. Sisanya ditetapkan sebagai kawasan konservasi untuk kelestarian ekosistem di area tersebut. Karena daerah tersebut kebanyakan kawasan peralihan antara darat dan laut," jelasnya saat kunjungan Penjabat Bupati Kubu Raya di kawasan hutan mangrove Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya akhir pekan lalu.
Dikatakannya, tidak perlu khawatir dengan pohon yang sudah ditebang. Karena sekitar 2-3 tahun bekas tebangan akan tertutup kembali. "Kalaupun tidak tumbuh, kita sudah mempersiapkan bibit dan melakukan penanaman. Karena 70-80 persen mangrove yang ditebang tertutup secara alami. Malah pihak perusahaan melakukan penanaman 20-30 persen di area tersebut," jelasnya.
Melihat pemanfaatan teknologi tersebut, Koordinator Kesehatan Kubu Raya, dr. H. Nursyam Ibrahim, M. Kes merasa heran mengapa arang katanya sebagian besar digunakan oleh orang Jepang untuk masak tersebut tidak dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia yang memiliki bahan baku melimpah. "Kalau mereka berani impor, mengapa kita tidak bisa menggunakannya. Ini menunjukkan nilai ekonomis yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah," katanya yang juga ikut dalam kunjungan tersebut. (adi)

2009, KKR Jadi Pengekspor Chip Mill

Kubu Raya, BERKAT.
Siapa sangka Kabupaten Kubu Raya yang sebagian besarnya terdiri dari kawasan perairan, namun pada tahun 2009 nantinya kabupaten termuda di Kalbar tersebut dicanangkan pengekspor chip mill (bahan baku kertas dalam bentuk serpihan kayu, red) dari kayu akasia terbesar di Kalbar.
Seperti kita ketahui, keberadaan kayu akasia sebagian besar digunakan sebagai tanaman untuk peneduh taman dan pinggiran jalan.
Bahan baku chip mill tersebut menurut Direktur PT Bina Silva Nusa, Jaya Iskandar sebagian besarnya diolah dari pohon akasia yang saat ini sudah tumbuh di lahan yang sudah mengantongi HGU seluas 9.040 hektar di Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya.
"Bukan hanya itu, saat ini para penduduk sekitar termasuk beberapa kecamatan terdekat seperti Kubu, Terentang dan lainnya yang memiliki lahan sudah diarahkan untuk menjadi pemasok pohon akasia," katanya kepada Penjabat Bupati KKR dan sejumlah wartawan saat berkunjung ke lokasi perkebunan akasianya akhir pekan lalu.
Saat ini kata Jaya Iskandar, pembangunan pabrik pengolahan dari kayu akasia menjadi chip mill sedang dibangun. "Sekitar bulan Agustus bangunan pabrik akan rampung," jelasnya.
Jumlah investasi yang besar untuk pembiayaan tenaga ahli dan lainnya merupakan alasan utama mengapa pembangunan pabrik kertas belum diupayakan di Kalbar.
"Yang terpenting untuk ke depannya, pengolahan chip mill ini bisa berdampak baik bagi masyarakat dan dapat memberikan kontribusi bagi PAD Kabupaten Kubu Raya," harap Jaya Iskandar. (adi)

Istana Kerajaan Kubu Situs Sejarah Wisata

Kubu Raya, BERKAT.
Kecamatan Kubu Kabupaten Kubu Raya memiliki kelebihan ter-sendiri dari 8 kecamatan lainnya. Tidak banyak kecamatan yang memiliki identitas yang mencirikan kekhasan daerah itu sendiri. Sementara Kecamatan Kubu sejak zaman dahulu memiliki iden-titas tersebut yakni sebuah istana yang sarat dengan nilai budaya dan adat istiadat.
Kerajaan Kubu didirikan oleh Sy. Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus, meski sempat terjadi polemik pada tataran penerusnya, setelah mendapatkan nasihat dari Sekretaris Jenderal Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara (FSKN) juga selaku Ketua Lembaga Pengamatan Penelitian Kraton-Kraton se-Nusantara (LP2K), Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Gunarso G Kusumodiningrat, pada 15 Maret 2007 lalu di Pontianak, bahwa dari berbagai polemik yang terjadi hendaknya kerabat dari Kerajaan Kubu segera membentuk Majelis Adat (MA).
Atas kesadaran itulah saat ini berbagai zuriat dari kalangan Al-Idrus mencoba untuk membangkitkan tradisi, adat istiadat dan budaya yang dahulu selalu dilakukan oleh para pendahulu.
Upaya tersebut juga didukung dengan pembangunan replika istana. Meski saat ini belum selesai proses pembangunannya, hal itu merupakan sebuah titik terang untuk pelestarian berbagai aset yang berpotensi untuk dikelola agar dapat menarik para wisatawan domestik maupun manca negara.
Untuk itu, ke depannya menurut Camat Kubu, Effendi, SH kawasan tersebut akan ditata sedemikian rupa sehingga mampu menarik wisatawan untuk mengunjungi situs sejarah wisata tersebut. (adi)

Kamis, 27 Maret 2008

Makan Tahunan Tradisi Masyarakat Pesisir Kalbar


Kubu Raya, BERKAT.
Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir Kalbar, ada sebuah kebiasaan yang saat ini masih dilakukan dan dilestarikan secara turun temurun.
Kebiasaan tersebut biasanya dinamakan tradisi makan tahunan, dimana menurut kepercayaan orang yang melaksanakan bahwa setiap tahun tahunnya, rezeki, jodoh dan segalanya yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa tidak pernah sama. Artinya, apa yang diberikan itu berbeda pada setiap masa. Seperti yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya yang setiap tahunnya secara turun temurun masih mempertahankan tradisi tersebut.
Konon, menurut kepercayaan masyarakat tradisi makan tahunan dilakukan sebagai mediasi untuk memohon dan berdoa kepada sang pencipta agar saat menjalankan kehidupan pada tahun berikutnya diberkati dengan berbagai kemudahan.
Tidak seperti makan biasanya yang lazim kita lakukan. Pada tradisi makan tahunan ini memiliki persyaratan yang harus dipenuhi. Seperti ayam kampung panggang, pulut (ketan, red) empat warna (putih, merah, kuning dan hitam) yang melambangkan empat elemen yang ada di bumi yakni tanah, air, api dan udara. Berbagai hasil bumi juga disuguhkan sebagai pertanda ungkapan rasa syukur atas apa yang telah diberikan.
Prosesinya, makan tahunan ini dipimpin dan diarahkan oleh tetua kampung dengan berbagai macam doa yang diucapkan.
Uniknya, makan tahunan ini dilaksanakan di dalam kelambu (tempat tidur, red). Dan tidak boleh berhenti sebelum lilin kuning yang dinyalakan dipadamkan.
Menurut Rahmad (54), salah seorang tetua adat di Kecamatan Sungai Kakap, manusia hidup di dunia ini tidak sendiri dan ada yang mendahuluinya. Untuk itu tradisi makan tahunan ini merupakan salah satu cara berbagi apa yang telah diberikan dan didapat. Selain itu, tradisi ini juga sebagai ungkapan rasa syukur yang tak terhingga atas apa yang telah diberikan pada kehidupan dalam jangka waktu satu tahun yang telah dilalui.
Hanya saja sebagian kecil masyarakat pesisir di Kecamatan Sungai Kakap ada yang meninggalkan tradisi ini. Banyak faktor yang menentukan, ada yang bilang zaman sudah canggih, barang-barang sudah naik. Namun, Rahmad merasa bangga saat ini masih ada orang yang tetap mempertahankan tradisi. "Siapa lagi yang akan mewarisi tradisi tersebut, kalau bukan anak cucu kita," ungkapnya. (adi)

Selasa, 25 Maret 2008

kura

salam kenal buat anda !!!