Jumat, 04 April 2008

Wisata Ziarah di Makam Pendiri Kerajaan Kubu

Kubu Raya, BERKAT.
Kecamatan Kubu merupakan satu-satunya kecamatan yang memiliki keunikan tersendiri di Kabupaten Kubu Raya. Di kecamatan ini sebagaimana tercatat dalam sejarah pernah berdiri sebuah Kerajaan Kubu. Dan hingga saat ini makan seorang pendirinya, Sy. Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus yang juga menjadi raja masih tetap terjaga dan terawat sebagai salah satu potensi wisata ziarah yang ada di kabupaten termuda di Kalbar ini.
Komplek pemakaman keluarga kerajaan tersebut, memiliki nuansa khas keraton. Selain itu pada sisi kanan dan kiri makam Sy. Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus terdapat dua buah meriam yang seudah berumur ratusan tahun.
Sy. Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus yang tercatat lahir pada hari Kamis, 17 Ramadhan 1144 penanggalan hijriah dan wafat pada hari Ahad (Minggu, red) 12 Dzulqaedah 1209 Hijriah.
Tidak hanya Disamping makam Sy. Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus yang berada di komplek makam tersebut, Raja Kerajaan Ambawang, Sy. Alwi bin Sy. Idrus Al-Idrus juga berada di samping makam Sy. Idrus Abdurrahman Al-Idrus.
Menurut Camat Kubu, Effendi, SH, potensi wisata ziarah tersebut seharusnya didukung dengan pembangunan infrastruktur di sekitar wilayah tersebut. "Karena selama ini infrastruktur menuju komplek makam Raja Kubu sangat mengkhawatirkan," katanya. (adi)

Kembangkan Wisata Sungai Di Kawasan Perairan Kubu Raya

Kubu Raya, BERKAT.
Kabupaten Kubu Raya yang memiliki luas wilayah 6.985,20 kilometer persegi sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan perairan. Potensi tersebut merupakan sebuah peluang bagi kabupaten yang didukung 9 kecamatan ini untuk dikembangkan wisata sungai pada kawasan tersebut. Seperti hutan bakau yang ada di Kecamatan Rasau Jaya, Kubu, Batu Ampar, Terentang dan lainnya yang memiliki keindahan tersendiri bila kita menyusurinya dengan angkutan air. Bahkan di kawasan tersebut dari dulu hingga sekarang menjadi sentral bagi nalayan tradisional untuk mencari nafkah.
Tidak hanya keindahan kawasan hutan bakau yang dijadikan aset untuk potensi wisata. Di kawasan tersebut juga bisa disediakan fasilitas memancing yang disediakan untuk pengunjung lokal. "Karena saat ini di kawasan tersebut masih banyak terdapat hewan-hewan air yang menjadi bahan dasar sea food.
Apalagi menjelang senja saat menghabiskan waktu menyisiri sepanjang deretan hutan bakau yang memiliki akar unik dan indah. Belum lagi kala matahari terbenam, sejumlah pasukan burung di sela-sela menguningnya cahaya matahari seolah menjadi perpaduan pemandangan yang mampu memberikan kepuasan saat menjadi saksi keindahan alam tersebut.
Menurut Ketua Lembaga Pemantau Pembangunan Daerah (LPPD), Drs. Dede Junaidi, pembangunan wisata perairan tersebut sebaiknya dipusatkan di Kecamatan Rasau Jaya. Karena selama ini Rasau Jaya merupakan gerbang bagi kecamatan lain untuk menuju pusat pemerintahan Kabupaten Kubu Raya.
"Fasilitas dermaga yang sudah ada di Rasau Jaya tinggal ditingkatkan. Dampaknya, perekonomian masyarakat di situ diharapkan berkembang tentu PAD pun akan meningkat," katanya.
Konsepnya, kata Dede seperti Negara Thailand yang serius menata kawasan sungainya menjadi potensi wisata. "Jika Kubu Raya bisa demikian, tentu kabupaten termuda di Kalbar ini bisa menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Kalbar," ungkapnya. (adi)

Kamis, 03 April 2008

Kelebihan Taman Nasional Kalbar



Pontianak, BERKAT.
Dari 50 Taman Nasional (TN) yang dimiliki Indonesia, empat di antaranya berada di Kalimantan Barat, yakni TN Betung Kerihun (800.000 hektar), TN Danau Sentarum (132.000 hektar) yang keduanya terletak di Kapuas Hulu, TN Bukit Baka Bukit Raya (181.090 hektar) yang terletak di dua daerah yaitu Kabupaten Sintang dan Melawi serta TN Gunung Palung (90.000 hektar) terletak di Kabupaten Kayong Utara.
Dari keempat taman nasional tersebut, masing-masing memiliki kelebihan tersendiri. Seperti TN Betung Kerihun yang merupakan hutan hujan tropis oriental yang berada tepat di jantung Kalimantan atau termasuk dalam jajaran pegunungan muller. Di daerah ini juga diperkirakan masih memiliki sekitar 1.030 ekor populasi orang utan (pongo pygmaeus).
Begitu pula dengan TN Bukit Baka Bukit Raya. Secara administrasi kawasan ini memang masuk dalam dua wilayah (Provinsi Kalbar dan Kalteng). Habitat berbagai jenis satwa serta tumbuhan langka dan endemik banyak terdapat di kawasan ini. Seperti barbourua kalimantanensis, spesies katak yang sudah dalam kategori kritis.
Sama halnya dengan TN Danau Sentarum yang berjarak sekitar 700 kilometer dari muara Sungai Kapuas (Pontianak) ini merupakan Ramsar Site kedua di Indonesia dan merupakan hutan rawa tergenang terluas di Kalimantan. Di danau ini habitat 147 jenis mamalia, 310 jenis burung, 226 jenis ikan dan tumbuhan endemik Kalimantan masih terdapat dan dilestarikan.
Keistimewaan TN Nasional Gunung Palung dari taman nasional lainnya adalah kawasan ini merupakan satu-satunya taman nasional di Indonesia yang memiliki tipe ekosistem terlengkap dan merupakan laboratorium ekosistem bagi hutan hujan tropika Kalimantan.
Dari keseluruhan taman nasional tersebut selain sebagai kawasan lindung yang dijaga oleh pemerintah, kawasan tersebut juga berpotensi sebagai tempat wisata, penelitian, edukasi sumber air bersih, irigasi dan lainnya. (adi-diambil dari berbagai sumber)

Lentera Penerang Bagi Arwah Leluhur



Singkawang, BERKAT.
Pawai lampion merupakan salah satu rangkaian acara untuk memeriahkan perayaan Cap Go Meh di Kota Singkawang.
Perayaan yang dikemas cukup apik ini mampu menarik para pengunjung, meski tak seramai pengunjung Cap Go Meh, pawai lampion juga mampu memberi kesan warna-warni pariwisata Kota Singkawang.
Lampion atau lentera yang dihias dengan berbagai ukuran tersebut diarak keliling kota menggunakan mobil hias yang khas dengan nuansa etnis Tionghwa. Tidak hanya itu, puluhan naga yang bercahaya juga memeriahkan arak-arakan malam hari tersebut. Begitu juga dengan para tatung yang akan beraksi pada perayaan Cap Go Meh beserta dua belas shio penanggalan imlek juga turun ke jalan memeriahkan pawai lampion. Bahkan, miniatur klentengpun juga menyemarakkan pawai lampion yang diperlombakan oleh Pemerintah Kota Singkawang tersebut.
Secara filosofis, menurut kepercayaan warga Tionghwa di Kota Singkawang, pawai lampion memiliki arti sebagai jalan terang bagi arwah para leluhur menuju ke surga.
Meskipun hujan mengguyur Kota Amoy itu, warga tetap saja memadati lokasi kegiatan dan sepanjang rute yang dilewati arak-arakan tersebut. Selain berbagai atraksi memeriahkan pawai lampion sepanjang belasan kilometer ini, Walikota Singkawang, Hasan Karman, SH, MM dan Wakil Walikota Singkawang, Drs. Edy Yakob, M. Si juga turun langsung.
Akibatnya, beberapa kawasan jalan menjadi macet total. Seperti Jalan Diponegoro, banyak kendaraan yang terjebak kemacetan, meski begitu mereka memanfaatkan kondisi tersebut untuk menyaksikan arak-arakan lampion yang lewat.
Walikota merasa yakin perayaan Cap Go Meh mampu menarik wisatawan baik domestik maupun manca negara. "Ini merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)," ujarnya singkat. (adi)

Memborong Barang yang Diberkati Dewa



Singkawang, BERKAT.
Setelah melaksanakan arak-arakan tatung, menjelang sore atau sekitar pukul 14.00 WIB, di sebuah altar yang sudah ditentukan oleh panitia pelaksana digelar pasar lelang yang menjual berbagai jenis barang yang berhubungan dengan Cap Go Meh.
Ada berbagai makanan, tebu, babi dan lainnya yang kesemua barang tersebut dipercaya dan diyakini telah diberkati oleh para dewa.
Tidak hanya warga sekitar, para pengunjung yang datang dari luar daerah bahkan luar negeripun tidak sayang merogoh dompetnya untuk membeli barang-barang yang dianggap menarik bagi mereka.
Konon, menurut kepercayaan etnis Tionghwa, membeli barang tersebut diyakini dapat memperoleh keuntungan dalam berdagang maupun keselamatan dalam kehidupan. Bahkan antusias masyarakat begitu terlihat ketika harga sudah mulai dibuka, tak sedikit orang yang mengacungkan tangan agar bisa menawar barang tersebut.
Sebatang tebu misalnya, ketika sudah diberkati harga perbatangnya bisa mencapai Rp 10.000.000. Kalau belum diberkati, biasanya harga di pasar tebu tersebut hanya berkisar sekitar Rp 20.000-Rp 30.000.
"Tebu berarti sebagai pelaris bagi siapa yang berdagang," ujar salah seorang pembeli, Chung Hyat Sun yang sudah memegang dua batang tebu.
Dikatakannya, tebu tersebut akan diikat di depan tokonya yang terletak persis si pusat Kota Singkawang.
Menjelang terbenam matahari, acara lelang pun berakhir, biasanya pihak penyelenggara bisa memperoleh keuntungan ratusan juta rupiah dari hasil penjualan tersebut. (adi)

Cap Go Meh Even Wisata Kalbar

Singkawang, BERKAT.
Perayaan Cap Go Meh yang dilaksanakan setiap tanggal 15 penanggalan imlek merupakan puncak perayaan tahun baru imlek. Di Kalbar perayaan tersebut kini dipusatkan di Kota Singkawang.
Sebagai kota tujuan wisata, Kota Singkawang yang memiliki luas wilayah 56.542 hektar ini tidak hanya memiliki potensi wisata adat budaya saja. Kota ini juga terletak diantara laut, muara, gunung dan sungai.
Potensi ini juga didukung oleh Pemerintah Kota Singkawang, seperti yang diungkapkan Walikota Singkawang, Hasan Karman, SH, MM bahwa perayaan Cap Go Meh harus dilaksanakan setiap tahun dan dirayakan dengan cara yang berbeda dan meriah.
Melihat peluang yang cukup besar tersebut, Pemkot Singkawang tidak segan-segan mengagendakan tradisi itu sebagai agenda wisata tahunan.
Dampaknya, sekitar dua minggu menjelang perayaan Cap Go Meh, seluruh hotel dan penginapan di Kota Amoy tersebut sudah dipenuhi dengan pesanan para tamunya. Apalagi bagi orang yang ingin memesan kamar sehari atau dua hari menjelang Cap Go Meh, banyak mereka yang tidak bisa mendapatkan fasilitas tersebut. Meskipun mereka harus membayar mahal.
Satu sisi, perayaan yang mempertontonkan atraksi tatung yang sepktakuler tersebut, seharusnya perlu dievaluasi. Ramainya pengunjung yang datang, bahkan melebihi jumlah penduduk Kota Singkawang tidak diimbangi dengan pelayanan di rumah makan atau restoran yang memuaskan, sehingga banyak para pengunjung makan bersama rombongan ke daerah lainnya. Untuk itu ke depan perlu kiranya, segala bidang perlu dipersiapkan. (adi)

Singkawang, Pusat Perayaan Cap Go Meh



Pontianak, BERKAT.
Di Kalimantan Barat pusat perayaan Cap Goh Meh dipusatkan di Kota Singkawang dan biasanya ditandai dengan arak-arakan para Tatung menuju vihara atau klenteng. Perayaan ini dipercaya sudah dilaksanakan turun temurun sejak 200 tahun yang lalu.
Dengan berbagai atraksi tatungnya yang berasal dari berbagai vihara yang tersebar di seluruh Singkawang.
Biasanya, dalam satu klenteng kadang terdiri lebih dari 1 orang Tatung. Pagi hari di hari ke 15 perayaan tahun baru imlek ini, para Tatung akan berkumpul untuk melakukan sembahyang kepada Langit di altar yang sudah disiapkan. Perjalanan para Tatung di tandu dengan menggunakan tandu yang beralaskan pedang tajam atau paku tajam, sambil memamerkan kekebalan tubuhnya. Ada juga yang naik tangga pedang, biasanya terdiri dari 36 atau 72 pundak/tangga.
Semakin bisa naik ke atas, artinya semakin kuat juga ilmu Tatung tersebut. Kegiatan ini telah mulai dikembangkan sebagai objek pariwisata untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Tak heran jika bertepatan dengan perayaan Cap Go meh, di Kota Singkawang terlihat padat oleh pengunjung yang datang dari berbagai penjuru daerah di Kalbar.
Potensi inilah yang menjadikan Kota Singkawang menjadi salah satu tujuan wisata di Kalbar.
Konon, roh-roh yang dipanggil untuk dirasukkan ke dalam Tatung diyakini merupakan para tokoh pahlawan dalam legenda Tiongkok, seperti panglima perang, hakim, sastrawan, pangeran dan lainnya.
Usai perayaan Cap Go Meh, biasanya masyarakat Singkawang langsung melakukan lelang besar-besaran pernak pernik yang digunakan oleh tatung, menurut kepercayaan masyarakat setempat, barang-barang tersebut bisa membawa hoki, apalagi digunakan untuk berdagang. (adi)

Selasa, 01 April 2008

Manfaat Arang Mangrove untuk Ekspor

Kubu Raya, BERKAT.
Hutan mangrove selain menjadi kawasan wisata saat ini sudah dimanfaatkan dan diolah menjadi bahan dasar arang untuk kebutuhan ekspor yang digunakan untuk berbagai macam oleh negara maju seperti Jepang dan China.
Hutan mangrove yang tumbuh di muara sungai dan daerah pasang surut atau tepi laut ini bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut.
Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen.
Kabupaten Kubu Raya yang memiliki kawasan perairan mencapai 67 persen sebagian besar lahannya ditumbuhi pohon yang pada umumnya mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor).
General Manager PT Bina Ovivipari Semesta (BIOS), Ateng Surya Sanjaya, menyebutkan produksi arang dari tanaman mangrove bisa mencapai 180.000 matrik ton per tahun dari lahan yang sudah diijinkan seluas 10.400 hektar di Kabupaten Kubu Raya.
"Tapi yang efektif kita gunakan untuk keperluan produksi hanya 6.000 hektar saja. Sisanya ditetapkan sebagai kawasan konservasi untuk kelestarian ekosistem di area tersebut. Karena daerah tersebut kebanyakan kawasan peralihan antara darat dan laut," jelasnya saat kunjungan Penjabat Bupati Kubu Raya di kawasan hutan mangrove Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya akhir pekan lalu.
Dikatakannya, tidak perlu khawatir dengan pohon yang sudah ditebang. Karena sekitar 2-3 tahun bekas tebangan akan tertutup kembali. "Kalaupun tidak tumbuh, kita sudah mempersiapkan bibit dan melakukan penanaman. Karena 70-80 persen mangrove yang ditebang tertutup secara alami. Malah pihak perusahaan melakukan penanaman 20-30 persen di area tersebut," jelasnya.
Melihat pemanfaatan teknologi tersebut, Koordinator Kesehatan Kubu Raya, dr. H. Nursyam Ibrahim, M. Kes merasa heran mengapa arang katanya sebagian besar digunakan oleh orang Jepang untuk masak tersebut tidak dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia yang memiliki bahan baku melimpah. "Kalau mereka berani impor, mengapa kita tidak bisa menggunakannya. Ini menunjukkan nilai ekonomis yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah," katanya yang juga ikut dalam kunjungan tersebut. (adi)

2009, KKR Jadi Pengekspor Chip Mill

Kubu Raya, BERKAT.
Siapa sangka Kabupaten Kubu Raya yang sebagian besarnya terdiri dari kawasan perairan, namun pada tahun 2009 nantinya kabupaten termuda di Kalbar tersebut dicanangkan pengekspor chip mill (bahan baku kertas dalam bentuk serpihan kayu, red) dari kayu akasia terbesar di Kalbar.
Seperti kita ketahui, keberadaan kayu akasia sebagian besar digunakan sebagai tanaman untuk peneduh taman dan pinggiran jalan.
Bahan baku chip mill tersebut menurut Direktur PT Bina Silva Nusa, Jaya Iskandar sebagian besarnya diolah dari pohon akasia yang saat ini sudah tumbuh di lahan yang sudah mengantongi HGU seluas 9.040 hektar di Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya.
"Bukan hanya itu, saat ini para penduduk sekitar termasuk beberapa kecamatan terdekat seperti Kubu, Terentang dan lainnya yang memiliki lahan sudah diarahkan untuk menjadi pemasok pohon akasia," katanya kepada Penjabat Bupati KKR dan sejumlah wartawan saat berkunjung ke lokasi perkebunan akasianya akhir pekan lalu.
Saat ini kata Jaya Iskandar, pembangunan pabrik pengolahan dari kayu akasia menjadi chip mill sedang dibangun. "Sekitar bulan Agustus bangunan pabrik akan rampung," jelasnya.
Jumlah investasi yang besar untuk pembiayaan tenaga ahli dan lainnya merupakan alasan utama mengapa pembangunan pabrik kertas belum diupayakan di Kalbar.
"Yang terpenting untuk ke depannya, pengolahan chip mill ini bisa berdampak baik bagi masyarakat dan dapat memberikan kontribusi bagi PAD Kabupaten Kubu Raya," harap Jaya Iskandar. (adi)

Istana Kerajaan Kubu Situs Sejarah Wisata

Kubu Raya, BERKAT.
Kecamatan Kubu Kabupaten Kubu Raya memiliki kelebihan ter-sendiri dari 8 kecamatan lainnya. Tidak banyak kecamatan yang memiliki identitas yang mencirikan kekhasan daerah itu sendiri. Sementara Kecamatan Kubu sejak zaman dahulu memiliki iden-titas tersebut yakni sebuah istana yang sarat dengan nilai budaya dan adat istiadat.
Kerajaan Kubu didirikan oleh Sy. Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus, meski sempat terjadi polemik pada tataran penerusnya, setelah mendapatkan nasihat dari Sekretaris Jenderal Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara (FSKN) juga selaku Ketua Lembaga Pengamatan Penelitian Kraton-Kraton se-Nusantara (LP2K), Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Gunarso G Kusumodiningrat, pada 15 Maret 2007 lalu di Pontianak, bahwa dari berbagai polemik yang terjadi hendaknya kerabat dari Kerajaan Kubu segera membentuk Majelis Adat (MA).
Atas kesadaran itulah saat ini berbagai zuriat dari kalangan Al-Idrus mencoba untuk membangkitkan tradisi, adat istiadat dan budaya yang dahulu selalu dilakukan oleh para pendahulu.
Upaya tersebut juga didukung dengan pembangunan replika istana. Meski saat ini belum selesai proses pembangunannya, hal itu merupakan sebuah titik terang untuk pelestarian berbagai aset yang berpotensi untuk dikelola agar dapat menarik para wisatawan domestik maupun manca negara.
Untuk itu, ke depannya menurut Camat Kubu, Effendi, SH kawasan tersebut akan ditata sedemikian rupa sehingga mampu menarik wisatawan untuk mengunjungi situs sejarah wisata tersebut. (adi)